Wakil Wali Kota Kupang Serena Francis Dorong Kesetaraan Gender dalam Politik Lokal: Budaya Patriarki Harus Diubah
- account_circle Mario
- calendar_month Senin, 6 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, menjadi narasumber dalam penelitian mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) mengenai hegemoni budaya patriarki dalam politik lokal, Jumat (12/9), di ruang kerjanya.
Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa Ilmu Politik, Anggeni Nomleni, dengan fokus pada tema “Dinamika Perubahan Hegemoni Budaya Patriarki: Studi Kasus Calon Wali Kota dalam Pemilihan Wali Kota Kupang Periode 2024–2025.”
Dalam kesempatan tersebut, Serena Francis menyampaikan dukungan terhadap inisiatif akademik yang menyoroti isu kesetaraan gender, serta mendorong peningkatan partisipasi perempuan dalam politik lokal.
Ia menilai, penelitian semacam ini penting untuk membuka ruang diskusi mengenai peran perempuan dalam menghadapi budaya patriarki yang masih kuat di berbagai sektor.
Serena berbagi pengalaman pribadi dalam perjalanan politiknya. Terinspirasi dari keluarga yang aktif di dunia politik, ia memulai kariernya melalui organisasi sayap Partai Gerindra, TIDAR, pada tahun 2020.
“Dari opa sampai papa semua aktif berpolitik. Dari mereka saya belajar bahwa kekuasaan jika digunakan dengan benar dapat membantu banyak orang,” ujarnya.
Ia mengakui, perjuangan perempuan di dunia politik masih diwarnai berbagai tantangan, terutama akibat budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai figur dominan.
Namun, menurutnya, hal tersebut tidak boleh menjadi penghalang.
“Kehadiran perempuan penting agar kebijakan publik lebih memperhatikan isu perempuan, anak, dan kelompok rentan. Stigma bahwa perempuan hanya cocok di ranah domestik harus dihapus. Perempuan juga bisa memimpin dan mengambil keputusan strategis,” tegasnya.
Serena menambahkan, perubahan budaya politik yang lebih setara membutuhkan dukungan lintas sektor, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Ia menekankan pentingnya program sosialisasi dan edukasi publik yang konsisten agar kesetaraan gender benar-benar terwujud di tingkat lokal.
“Kota Kupang perlu menjadi kota inklusif yang memberi ruang bagi semua, termasuk kelompok disabilitas dan masyarakat rentan,” jelasnya.
Menutup diskusi, Serena mengajak perempuan muda di Kota Kupang untuk tidak takut terjun ke dunia politik.
Ia menilai keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan publik merupakan bagian dari upaya membangun politik yang lebih berkeadilan dan manusiawi.
“Kuota 30 persen bagi perempuan adalah peluang besar. Politik bukan hanya urusan kekuasaan, tapi tentang keberpihakan. Ketika perempuan berani maju, wajah politik akan lebih berpihak pada kemanusiaan,” pungkasnya.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar