Usman Husin Dukung Mayana, Putri Rote Ndao yang Bawa Budaya Indonesia ke Panggung Dunia
- account_circle Mario
- calendar_month 15 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Kebanggaan terhadap budaya daerah kembali menemukan panggungnya di tingkat internasional. Kali ini, datang dari seorang putri muda asal Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Mayana Tysellanata Saleky, yang membawa nama Indonesia dalam ajang Miss Pre-Teen Culture Universe International Culture Delegate 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Mayana tidak hanya tampil membawa nama Indonesia, tetapi juga memperkenalkan identitas budaya Rote Ndao melalui busana dan atribut tradisional yang dikenakannya.
Langkah Mayana mendapat dukungan dari Anggota DPR RI Fraksi PKB Dapil NTT II, Usman Husin, yang melihat keberanian dan prestasi generasi muda seperti Mayana sebagai sesuatu yang patut diapresiasi dan didukung.
Pertemuan keduanya berlangsung di Kompleks DPR RI, Jakarta. Usman tampil mengenakan batik dengan Ti’i Langga, topi adat khas Rote Ndao, sementara Mayana mengenakan busana yang membawa kuat identitas budaya daerah asalnya.
Pertemuan tersebut menjadi gambaran menarik tentang bagaimana budaya Rote Ndao dapat hadir dalam ruang yang lebih luas, sekaligus diwariskan melalui generasi muda.
Dalam ajang Miss Culture Universe 2026, Mayana tampil dengan National Costume bertajuk “Diversity: The Face of Indonesia”.
Busana tersebut mengangkat keberagaman budaya Indonesia, dengan sentuhan kuat identitas Indonesia Timur dan Rote Ndao.
Salah satu elemen yang menjadi perhatian adalah Bula Molik, aksesori tradisional berbentuk bulan sabit yang dikenakan sebagai bagian dari penampilannya.
Kehadiran Bula Molik membuat penampilan Mayana tidak sekadar menjadi representasi seorang peserta ajang kecantikan budaya, tetapi juga menjadi cara untuk memperkenalkan salah satu kekayaan tradisi Rote Ndao kepada publik internasional.
Dari Rote Ndao, Mayana membawa cerita tentang budaya, tradisi dan identitas daerahnya ke Kuala Lumpur.
Usman Husin mengapresiasi langkah Mayana yang berani membawa nama Rote Ndao dan Indonesia ke panggung internasional.
Menurutnya, NTT memiliki banyak anak muda dengan talenta dan potensi yang luar biasa. Karena itu, mereka perlu diberikan ruang dan dukungan agar mampu berkembang dan menunjukkan kemampuannya.
“Ini tentu menjadi kebanggaan kita bersama. Anak-anak NTT memiliki banyak talenta. Ketika ada anak kita yang mampu membawa nama daerah dan Indonesia ke panggung internasional, tentu harus kita dukung,” ujar Usman, (3/9/2026).
Ia menilai keberanian Mayana tampil di tingkat internasional juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya NTT kepada dunia.
“Budaya kita sangat kaya. Rote Ndao memiliki identitas budaya yang kuat. Ketika anak muda kita membawa identitas itu ke panggung internasional, maka secara tidak langsung mereka juga sedang memperkenalkan NTT dan Indonesia,” katanya.
Bagi Usman, dukungan kepada generasi muda tidak hanya soal memberikan apresiasi ketika mereka telah berhasil. Dukungan juga diperlukan untuk membangun kepercayaan diri agar anak-anak daerah berani bermimpi dan bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
Perjalanan Mayana menuju panggung internasional juga mendapat dukungan dari Nihi Rote dan Rote Hospitality Academy.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Mayana dalam mengembangkan potensi sekaligus membawa identitas budaya Rote Ndao melalui dunia yang ia geluti.
Keberadaan Mayana di ajang internasional menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa kekayaan budaya tidak hanya tersimpan dalam tradisi masyarakat, tetapi juga dapat diperkenalkan melalui kreativitas generasi muda.
Usman berharap langkah Mayana dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak NTT lainnya.
“Jangan pernah merasa karena kita berasal dari daerah maka kita tidak bisa bersaing. Anak-anak NTT harus percaya diri dan berani menunjukkan kemampuan. Kalau ada kesempatan, manfaatkan dan bawa nama daerah kita dengan baik,” ujarnya.
Ada pesan yang lebih besar dari sekadar penampilan di sebuah panggung internasional.
Ketika Mayana mengenakan Bula Molik, ia membawa simbol budaya Rote Ndao. Ketika Usman mengenakan Ti’i Langga, ia juga membawa identitas yang sama.
Keduanya kemudian bertemu dalam satu bingkai di Jakarta.
Satu mewakili pengalaman dan perjuangan generasi sebelumnya, sementara yang lain membawa harapan generasi muda yang sedang melangkah menuju dunia.
Dari Rote Ndao, sebuah identitas budaya kemudian melakukan perjalanan jauh, menyeberangi batas daerah dan negara, hingga hadir di panggung internasional.
Dan melalui langkah Mayana, pesan itu menjadi sederhana: budaya daerah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dibawa maju dan diperkenalkan kepada dunia.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar