Use Rapat RT Warga Tidar Sari Magelang Keracunan Makan Siomay
- account_circle Feri Taufiandi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

MAGELANG, JARRAKPOS.COM – Telah terjadi sebanyak 23 orang dilarikan ke rumah sakit diduga mengalami gejala keracunan usai menyantap siomay yang menjadi menu rapat RT di Kelurahan Tidar Selatan, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang, Jawa Tengah.
Plt Wakil Direktur Pelayanan RSUD Tidar Kota Magelang, Danu Widi Nugroho mengatakan, pihaknya mulai menerima pasien pada Selasa (20/10/2026) pukul 23.00 WIB.
Menurutnya, jumlah pasien semakin bertambah. Hingga hari ini Rabu (21/10/2026) mencapai 23 korban.
Dari jumlah tersebut, tiga orang di antaranya menjalani opname. Mereka terdiri dua orang dewasa dan seorang anak-anak.
“Informasi yang saya terima, mereka mengonsumsi siomay yang jadi menu makanan rapat RT (rukun tetangga). Di rapat itu ada 50 peserta,” ungkapnya di RSUD Tidar, Rabu (21/10/2026).
Alami Muntah hingga Diare
Ia mengatakan, 20 korban lainnya diperbolehkan rawat jalan setelah kondisi mereka dinyatakan membaik.
Gejala keracunan para korban, kata Danu, meliputi mual, muntah, hingga diare.
Salah satu korban dugaan keracunan siomay, Agus Reihan (42) mengatakan, siomay dijadikan menu makanan dalam rapat RT di Kampung Tidar Sari pada Senin (19/10/2026) malam.
Ia memakan menu tersebut pada pukul 23.00 WIB. Agus juga turut membagikan siomay kepada anaknya.
“Selasa pagi sampai siang enggak apa-apa. Sore reaksinya dingin, seperti masuk angin. Saya kerokan, tetapi lama kelamaan mual, mulas, muntah, diare,” katanya.
Sang anak juga mengalami gejala keracunan serupa. Agus sempat dibawa sebuah rumah sakit swasta pada Selasa malam dan diperbolehkan pulang untuk rawat jalan.
Tak berselang lama, anak Agus turut dilarikan ke rumah sakit lalu diperbolehkan rawat jalan.
Namun, kini Agus menjalani opname di RSUD Tidar. “Rabu pagi tadi saya baru masuk ke Tidar,” imbuhnya.
Direktur RSUD Tidar, Junaedi Wibawa mengatakan, jumlah korban dugaan keracunan siomay kemungkinan lebih banyak daripada yang ditangani rumah sakit.
“Ada yang berobat ke dokter lain,” pungkasnya.
Editor : Feri
- Penulis: Feri Taufiandi





Saat ini belum ada komentar