UMKM Bergeliat di Festival Penkase Oeleta, Omzet Meningkat dan Antusias Warga Melonjak
- account_circle Mario
- calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Geliat ekonomi rakyat tampak nyata dalam Festival Budaya Penkase Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang.
Kegiatan yang berlangsung pada 29 April hingga 1 Mei 2026 ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga membawa dampak signifikan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Ketua panitia, Emanuel Absoni Ratu Dally, menyebutkan bahwa sekitar 20 stan UMKM turut ambil bagian di lokasi kegiatan.
Beragam produk ditawarkan, mulai dari makanan ringan, kuliner khas daerah, hingga pakaian tenun adat yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Ia mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Kupang, termasuk Wali Kota dan Wakil Wali Kota, yang telah berkontribusi dalam menyukseskan festival tersebut, terlebih karena kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan 30 tahun otonomi Kota Kupang.
Berdasarkan pemantauan langsung di lapangan, terjadi peningkatan pendapatan yang dirasakan para pelaku UMKM selama kegiatan berlangsung.
Hal ini mendorong harapan agar festival serupa dapat dijadikan agenda rutin yang lebih terprogram, bahkan memungkinkan digelar dua kali dalam setahun mengingat dampak ekonominya yang positif.
Salah satu pelaku UMKM, Vinsen Sunardi, mengaku merasakan langsung lonjakan penjualan. Ia bersama warga RW 08 menghadirkan berbagai produk, seperti kue rambut, jagung titi, jagung bose, hingga aneka makanan seperti bakso bakar, sosis bakar, roti bakar, dan burger, serta tenun lokal.
Menurutnya, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, festival kali ini terasa lebih meriah dengan tambahan pawai budaya dan wahana permainan anak-anak.
Ia juga menyoroti meningkatnya jumlah pelaku usaha yang terlibat, dari sebelumnya hanya beberapa penjual menjadi jauh lebih banyak.
Antusiasme pengunjung pun terlihat tinggi. Bahkan, ia sempat mendengar salah satu penjual harus berulang kali menambah stok karena dagangan cepat habis.
Kondisi serupa juga terjadi di stan miliknya, di mana sebagian besar produk laris terjual.
Festival ini turut dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti lomba kebersihan antar-RW, karaoke lagu daerah, tarian tradisional, hingga penilaian stan terbaik.
Keterlibatan warga dari 10 RW dan 38 RT menjadikan suasana semakin hidup dan penuh kebersamaan.
Dengan dampak positif yang dirasakan, kegiatan ini tidak hanya memperkuat budaya lokal, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa event berbasis masyarakat mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat kelurahan.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar