Di Balik Bersihnya Pacitan, Ada Mereka yang Bekerja Saat Kota Terlelap
- account_circle Yuniardi Sutondo
- calendar_month 0 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pacitan,JarrakPos.com-Pagi belum benar-benar membuka matanya. Mentari masih malu-malu bersembunyi di balik mendung. Embun menetes perlahan, sementara kabut tipis menggantung di antara dinginnya udara yang menyelimuti Pacitan.
Di saat sebagian orang masih nyaman bergelung di balik selimut, sejumlah orang justru telah meninggalkan kehangatan rumah. Mereka adalah para petugas kebersihan atau “Pasukan Kuning” yang setiap pagi menyusuri sudut-sudut kota, membawa sapu, pengki, dan perlengkapan kebersihan lainnya.
Langkah mereka menyusuri pasar, trotoar, lorong-lorong jalan, hingga sudut kota yang mungkin luput dari perhatian banyak orang.
Sampah yang berserakan dipungut satu per satu. Tak ada wajah jijik ketika tangan harus bersentuhan dengan sisa-sisa aktivitas manusia. Tak pula mereka menunggu matahari meninggi untuk memulai pekerjaan.
Bagi mereka, pagi adalah waktu untuk bekerja.
Ketika sebagian besar warga mulai membuka pintu rumah dan bersiap menjalani aktivitas, jalan-jalan Pacitan diharapkan telah bersih. Kota tampak lebih rapi, udara terasa lebih nyaman, dan wajah Pacitan pun lebih sedap dipandang.

Kadis DLH Pacitan, Hj. Cicik Roudlotul Jannah, ikut turun gunung menjaga kebersihan Kota Pacitan.
Di balik pemandangan kota yang bersih itu, ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan, Cicik Roudlotul Jannah, mengatakan aktivitas tersebut merupakan rutinitas para petugas kebersihan setiap hari.
Mereka, kata Cicik, tak mengenal lelah. Cuaca bukan alasan untuk berhenti. Saat sebagian orang memilih berteduh dari dinginnya pagi atau derasnya hujan, para petugas kebersihan tetap harus turun ke jalan menjalankan tugasnya.
Pekerjaan itu tentu bukan tanpa risiko.
Berhadapan dengan sampah setiap hari membuat mereka rentan terhadap berbagai risiko kesehatan maupun keselamatan kerja. Namun, pekerjaan tersebut tetap dijalani sebagai bagian dari tanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan.
Upah yang diterima mungkin belum sebanding dengan beratnya pekerjaan. Tetapi setiap pagi mereka tetap datang, membawa peralatan, menyusuri jalan, lalu membersihkan apa saja yang berserakan.
Ada ketulusan yang tumbuh dari rutinitas itu.
Tak banyak orang yang mengenal nama mereka. Tak banyak pula yang menyadari bahwa jalan yang bersih ketika pagi tiba merupakan hasil dari pekerjaan yang dimulai jauh sebelum aktivitas kota menggeliat.
“Mereka bekerja ketika langit masih kelabu. Mereka menyapu ketika sebagian besar pintu rumah masih tertutup. Dan ketika kota mulai ramai, mereka perlahan menepi, meninggalkan jalanan yang telah kembali bersih,” kata Cicik, Ahad (27/9).
Barangkali, begitulah cara para petugas kebersihan mencintai Pacitan—bukan dengan kata-kata, melainkan dengan sapu di tangan, langkah yang tak banyak mengeluh, dan kesetiaan menjaga kota setiap pagi.
Di balik wajah Pacitan yang bersih dan indah, ada pengabdian yang kerap tak terlihat.
Ada mereka yang memilih bangun lebih awal agar orang lain dapat menikmati pagi dengan lebih nyaman.(Red/yun).
- Penulis: Yuniardi Sutondo




Saat ini belum ada komentar