David Boimau Soroti Kelangkaan Semen di NTT: Bukan Lagi Urusan Distributor, Pemerintah Harus Bertindak
- account_circle Mario
- calendar_month 2 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Kelangkaan semen yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya mengganggu aktivitas perdagangan, tetapi juga mulai mengancam keberlangsungan ekonomi masyarakat dan memperlambat pembangunan di daerah.
Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele. Para tukang bangunan terancam kehilangan pekerjaan, proyek-proyek perumahan terhambat, sementara pembangunan infrastruktur pemerintah maupun swasta ikut tersendat akibat terbatasnya pasokan semen.
Kondisi ini mendapat sorotan serius dari Anggota DPRD Provinsi NTT, David Boimau. Politisi Partai Hanura yang merupakan anggota Komisi I DPRD NTT itu menegaskan, persoalan kelangkaan semen bukan lagi sekadar tanggung jawab distributor, melainkan sudah menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi untuk segera ditangani.
“Kelangkaan semen di NTT sudah menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi, bukan distributor, karena sudah melemahkan ekonomi lokal. Tukang terancam menganggur, proyek perumahan terhambat dan pembangunan pemerintah maupun swasta tersendat,” tegas David, (6/11/2026).
Menurutnya, persoalan distribusi barang ke NTT juga tidak terlepas dari keterbatasan kapal tongkang serta kendala pasokan BBM dan batubara. Sebagai provinsi kepulauan, NTT membutuhkan dukungan serius pemerintah pusat untuk memastikan akses transportasi laut dan distribusi logistik berjalan lancar.
David mengingatkan, pemerintah tidak boleh membiarkan persoalan kelangkaan semen terus berlarut-larut. Sebab, ketika pasokan barang terbatas, kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memainkan harga dan meraup keuntungan besar di tengah kesulitan masyarakat.
Karena itu, ia mendesak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT bersama Satgas Pangan/Ekonomi Polda NTT segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) secara menyeluruh terhadap distributor semen hingga para pengecer.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan ketersediaan stok, mengawasi jalur distribusi, sekaligus menelusuri kemungkinan adanya praktik penimbunan yang menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga semen di pasaran.
“Jika ada oknum-oknum yang sengaja berspekulasi, menimbun semen kemudian menjual dengan harga tinggi, harus diberikan sanksi secara tegas,” ujarnya.
Tidak hanya meminta pengawasan ketat di tingkat distribusi, David juga mendorong pemerintah pusat mengambil langkah strategis untuk mengatasi persoalan logistik laut yang selama ini menjadi salah satu tantangan bagi NTT.
Ia secara khusus meminta pemerintah pusat memberikan kemudahan izin operasional kepada perusahaan-perusahaan kapal tongkang yang bersedia melayani rute pelayaran menuju pelabuhan-pelabuhan di NTT.
Menurut David, kemudahan perizinan bagi perusahaan pelayaran dan investor kapal tongkang dapat menjadi salah satu solusi untuk memperlancar arus masuk barang ke NTT. Dengan semakin terbukanya akses transportasi laut, distribusi semen dan berbagai kebutuhan pokok masyarakat diharapkan menjadi lebih lancar.
Ia menilai, persoalan transportasi laut tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan bahan bangunan, tetapi juga berpengaruh terhadap harga berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk pangan.
“Memberikan kemudahan izin operasional kepada investor kapal tongkang adalah salah satu solusi tepat karena dengan sendirinya membantu masyarakat untuk mengendalikan harga pangan di NTT,” ungkapnya.
David berharap pemerintah provinsi dan pemerintah pusat tidak saling melempar tanggung jawab, melainkan segera membangun koordinasi dan mengambil langkah konkret.
Baginya, kelangkaan semen harus dilihat sebagai persoalan ekonomi dan pembangunan yang membutuhkan penanganan serius. Sebab, jika pasokan terus terganggu, masyarakat kecil, pekerja bangunan, pelaku usaha, hingga sektor pembangunan akan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Pemerintah pun diharapkan tidak hanya fokus mengatasi kelangkaan sesaat, tetapi juga membenahi persoalan mendasar dalam sistem distribusi dan akses logistik laut menuju NTT agar masalah serupa tidak terus berulang.***
- Penulis: Mario





Saat ini belum ada komentar