Tak Hanya Latih Guru, UNICEF dan DBS Foundation Bagi Buku Bacaan untuk Sekolah di Kabupaten Kupang
- account_circle Mario
- calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com – Upaya memperkuat kemampuan literasi dan numerasi anak-anak di Kabupaten Kupang tidak hanya dilakukan melalui peningkatan kapasitas guru. UNICEF bersama DBS Foundation juga menghadirkan dukungan berupa buku-buku bacaan bermutu bagi sekolah-sekolah yang menjadi sasaran program.
Dukungan tersebut menjadi penting karena di sejumlah sekolah, ketersediaan bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak masih menjadi tantangan. Padahal, buku bacaan menjadi salah satu pintu bagi anak untuk membangun kebiasaan membaca sejak kelas awal.
Pembagian buku itu dilakukan dalam rangkaian Pelatihan Literasi dan Numerasi Kelas Awal serta Pendidikan Gizi yang digelar pada 30 September hingga 3 Oktober 2026 di Hotel Silvia Premiere Kupang.
Kegiatan yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Kupang bersama UNICEF dan DBS Foundation tersebut diikuti 95 peserta dari 19 sekolah dasar di Kecamatan Amabi Oefeto, Amabi Oefeto Timur, Takari dan Kupang Timur.
Para peserta terdiri dari guru kelas awal, kepala sekolah dan pengelola perpustakaan. Selain mendapatkan penguatan mengenai strategi pembelajaran literasi dan numerasi, peserta juga diperkenalkan dengan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual serta integrasi pendidikan gizi di sekolah.
UNICEF dan DBS Foundation turut mendistribusikan buku bacaan bermutu dengan jenjang yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan membaca anak. Buku-buku tersebut diharapkan dapat memperluas akses siswa terhadap bahan bacaan sekaligus membantu sekolah membangun lingkungan belajar yang lebih mendukung perkembangan literasi.
Buku Masih Menjadi Tantangan
Bagi Referson Abineneo, pengurus perpustakaan UPTD SD Negeri Besleu, tambahan buku bacaan menjadi dukungan yang sangat berarti.
Ia mengatakan, sekolahnya memang sudah memiliki sejumlah buku. Namun, sebagian besar merupakan buku terbitan lama dan belum cukup menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran saat ini.
“Buku kita masih belum mencukupi lah,” ujar Referson.
Menurutnya, minat membaca anak-anak, terutama siswa kelas awal, sebenarnya cukup tinggi. Persoalannya, pilihan buku yang tersedia masih terbatas sehingga anak-anak cenderung membaca buku yang sama berulang kali.
“Anak-anak itu antusias membaca. Tetapi karena buku yang tersedia terbatas, mereka akhirnya membaca buku yang itu-itu saja,” katanya.
Karena itu, kehadiran buku-buku bacaan baru dinilai dapat memberikan pilihan yang lebih beragam kepada siswa sekaligus mendorong mereka untuk semakin dekat dengan aktivitas membaca.
Tidak hanya soal buku, Referson juga mendapatkan pengalaman baru dari pelatihan tersebut. Ia belajar bahwa proses literasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai benda dan situasi yang ada di lingkungan sekolah.
Slah satu contoh yang diperolehnya adalah menggunakan benda-benda di sekitar, termasuk persoalan sampah, sebagai media pembelajaran untuk mengenalkan anak pada situasi nyata sekaligus melatih kemampuan membaca dan memahami informasi.
Guru Didorong Ubah Cara Mengajar
Dukungan buku tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas guru. Pelatihan tidak hanya memberikan materi secara teori, tetapi juga mendorong guru menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi dan kemampuan anak.
Feby Taneo, guru SD GMIT Oenunutono, mengaku mendapatkan banyak hal baru selama mengikuti pelatihan.
Sebagai guru yang baru mengajar kurang dari satu tahun, ia menghadapi tantangan ketika harus mengajarkan berbagai kemampuan dasar kepada siswa sekolah dasar.
Salah satu yang menjadi tantangannya adalah bagaimana membantu anak mengenal angka hingga memahami konsep numerasi secara bertahap.
“Dari pelatihan ini saya jadi tahu langkah-langkahnya. Jadi tidak langsung, tetapi dari satu tahap ke tahap berikutnya sampai anak bisa menjawab dengan benar,” jelas Feby.
Hal serupa ia rasakan dalam mengajarkan membaca.
Sebelumnya, ia cenderung langsung mengajarkan anak melalui suku kata. Namun, dari pelatihan tersebut ia memahami bahwa proses dapat dimulai dari pengenalan bunyi terlebih dahulu sebelum anak diarahkan kepada suku kata dan kata.
Untuk numerasi, anak juga tidak langsung diperhadapkan dengan simbol atau angka. Guru dapat menggunakan benda konkret maupun gambar agar konsep yang diajarkan lebih mudah dipahami.
Menurut Feby, pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa guru tidak bisa hanya berpegang secara kaku pada modul.
“Kita harus melihat kondisi anak. Metodenya juga harus disesuaikan dengan kebutuhan anak,” katanya.
Ia bahkan memberikan waktu tambahan kepada siswa yang masih kesulitan membaca dengan mendampingi mereka secara individual ketika jam istirahat atau saat memiliki waktu luang.
“Yang pertama saya mau perbaiki adalah metode mengajar saya, dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang sudah didapat dari pelatihan ini,” ujarnya.
Feby berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada satu pelatihan.
“Saya berharap pelatihan-pelatihan ini jangan sampai di sini saja, tetapi terus berjalan sehingga kita sebagai guru, terutama guru-guru muda, masih harus terus belajar,” katanya.
Anak Kelas Awal Masih Butuh Banyak Dukungan
Persoalan kemampuan membaca juga dirasakan Yuliana Ferderika Baitanu, Kepala UPTD SD Inpres Kiupakes.
Ia mengatakan, masih ada anak kelas awal, khususnya kelas 1 dan 2, yang mengalami kesulitan membaca. Sebagian bahkan masih berada pada tahap mengeja.
Sementara itu, anak-anak sebenarnya memiliki keinginan belajar yang cukup tinggi. Karena itu, menurut Yuliana, guru perlu menggunakan lebih banyak media untuk membantu anak mengenal huruf, bunyi, suku kata hingga kata.
“Literasi itu membutuhkan banyak media untuk membantu anak mengenal huruf, kemudian masuk ke suku kata dan kata,” jelasnya.
Dalam numerasi pun demikian. Guru dapat menggunakan berbagai media untuk membantu anak memahami konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian hingga pembagian.
Di sekolahnya, keterbatasan buku cerita, khususnya buku bergambar, juga masih menjadi persoalan.
Karena itu, Yuliana menyambut baik dukungan buku dan pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan. Ia berencana membagikan kembali materi yang diperoleh kepada guru-guru lainnya agar tidak berhenti pada dirinya sendiri.
“Jangan mubazir saja, tetapi tetap saya akan bagikan agar teman-teman guru juga terapkan di sekolah,” ujarnya.
Akan Direplikasi ke Sekolah Lain
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kupang, Marthen Rahakbauw, mengapresiasi dukungan UNICEF dan DBS Foundation bersama para narasumber serta fasilitator yang telah memberikan penguatan kepada guru, kepala sekolah dan pengelola perpustakaan.
Menurut Marthen, pendekatan yang diperoleh selama pelatihan akan ditindaklanjuti di tingkat sekolah dengan pendampingan fasilitator dan pengawas.
“Kita akan replikasi ke sekolah lainnya,” tegas Marthen.
Ia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Kupang akan terus mendukung penguatan literasi, numerasi dan pendidikan gizi di setiap satuan pendidikan.
Menurutnya, persoalan literasi tidak hanya menyangkut kemampuan guru dalam mengajar, tetapi juga ketersediaan sarana pendukung, termasuk perpustakaan dan bahan bacaan.
Untuk sekolah yang belum memiliki perpustakaan, Marthen mengatakan kebutuhan tersebut dapat diusulkan melalui program revitalisasi sekolah. Data sarana dan prasarana juga perlu diperbarui dalam Dapodik sehingga kebutuhan sekolah dapat dipetakan secara lebih baik.
Selain itu, sekolah dapat memanfaatkan dana BOS untuk mendukung pengadaan buku sesuai ketentuan yang berlaku.
Pemerintah daerah, lanjutnya, juga menyadari masih adanya keterbatasan tenaga kependidikan yang membantu pengelolaan perpustakaan. Dalam kondisi tersebut, sejumlah sekolah masih memberdayakan guru untuk membantu mengelola perpustakaan sambil menunggu pemenuhan kebutuhan tenaga secara bertahap.
Dengan demikian, dukungan UNICEF dan DBS Foundation tidak berhenti pada ruang pelatihan. Buku-buku yang dibagikan diharapkan benar-benar hadir di ruang kelas dan perpustakaan, sementara pengetahuan yang diperoleh guru diterapkan dalam proses belajar sehari-hari.
Sebab, bagi sekolah, memperkuat literasi anak bukan hanya soal membuat anak mampu membaca, tetapi juga memastikan mereka memiliki guru yang tepat, metode yang sesuai dan buku yang cukup untuk terus membaca.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar