Dishub NTT dan Yayasan Gaharu Global Mandiri Canangkan Penanaman 10 Ribu Pohon Balsa, Dorong Udara Bersih hingga Kontribusi bagi PAD
- account_circle Mario
- calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com– Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Yayasan Gaharu Global Mandiri memulai gerakan penanaman 10 ribu pohon balsa sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat dan aparatur sipil negara (ASN).
Kepala Dinas Perhubungan NTT, Frederik C. P. Koenunu, mengatakan gerakan menanam pohon bukan hanya tugas yang menjadi tanggung jawab bidang sektor kehutanan atau pertanian sepenuhnya, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
“Semua orang bisa melakukan ini. Tidak harus orang yang memiliki latar belakang pendidikan kehutanan atau pertanian. Yang penting ada kesadaran bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan agar tetap bersih, sehat bahkan dapat memberikan manfaat ekonomi,” ujarnya, Kamis (12/6/2026).
Menurut Frederik, keterlibatan Dishub dalam gerakan penanaman pohon memiliki keterkaitan langsung dengan tugas sektor transportasi.
Aktivitas kendaraan bermotor, transportasi laut, hingga transportasi udara menghasilkan emisi beracun yang berkontribusi terhadap pencemaran udara.

Sebagai pimpinan instansi yang membidangi transportasi, ia memahami bahwa emisi dari bahan bakar kendaraan bermotor menjadi salah satu sumber polusi yang perlu diimbangi dengan langkah nyata menjaga lingkungan.
“Transportasi menghasilkan emisi yang berdampak buruk pada kualitas udara. Salah satu cara untuk mengimbanginya adalah dengan menghadirkan lebih banyak sumber oksigen melalui penanaman pohon,” jelasnya.
Gerakan ini juga sejalan dengan program nasional Gerakan Indonesia Menanam serta mendukung visi pembangunan daerah yang tertuang dalam Dasa Cita Gubernur dan Wakil Gubernur NTT.
Frederik yang juga merupakan pendiri Yayasan Gaharu Global Mandiri (GGM) menjelaskan, nama yayasan tersebut memiliki makna yang mendalam.
Kata “Global” mencerminkan semangat berpikir dan bergerak dalam skala dunia. Sementara “Gaharu” diambil dari salah satu jenis kayu bernilai ekonomi tinggi yang dikenal hingga pasar internasional. Adapun kata “Mandiri” menggambarkan semangat bergerak secara sukarela, tanpa paksaan, dengan mengandalkan kemampuan dan kemandirian sendiri.
“Filosofinya adalah bagaimana kita membangun gerakan yang memberi manfaat bagi lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan,” katanya.
Dalam program penghijauan ini, Yayasan Gaharu Global Mandiri memilih pohon balsa sebagai tanaman utama.
Balsa dikenal sebagai salah satu pohon dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Dalam waktu sekitar lima hingga enam tahun, pohon ini sudah dapat dipanen.
Kayunya memiliki karakteristik ringan, lentur, namun kuat sehingga banyak digunakan sebagai bahan baku industri.
Kayu balsa dimanfaatkan untuk berbagai produk, antara lain papan selancar (surfboard), bilah turbin angin, model pesawat terbang, kerajinan, hingga berbagai kebutuhan industri komposit modern.
“Balsa merupakan tanaman produktif dengan nilai ekonomi yang menjanjikan. Dalam usia panen sekitar lima sampai enam tahun, satu pohon bisa bernilai antara Rp700 ribu hingga Rp1 juta,” ungkap Frederik.
Upaya pengembangan balsa di NTT sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2024. Saat ini, sekitar 3.000 pohon balsa telah tumbuh di Desa Sillu, Kabupaten Kupang.

Sebagian pohon bahkan telah mencapai tinggi sekitar tujuh meter, menunjukkan bahwa tanaman tersebut mampu beradaptasi dengan baik di wilayah NTT.
“Balsa yang kami rintis sejak 2024 di Desa Sillu menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Ini menjadi bukti bahwa tanaman ini memiliki prospek yang menjanjikan,” katanya.
Selain untuk penghijauan, program ini juga dirancang sebagai bentuk pemberdayaan ASN di lingkungan Dishub NTT.
Bibit yang dikembangkan oleh pegawai/ASN akan dikelola secara produktif. Dinas Perhubungan NTT juga siap menerima sejumlah pesanan untuk pembelian bibit maupun hasil pengembangan tanaman balsa tersebut.
Frederik menjelaskan, hasil yang diperoleh nantinya akan dibagikan kepada para pengelola yang terlibat dalam program tersebut dan juga 20% untuk dapat mendukung kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dishub NTT juga memanfaatkan lahan kantor sebagai lokasi persemaian bibit. ASN secara gotong royong menyiapkan media tanam dan bibit yang nantinya akan ditanam saat musim hujan tiba.
“Kita manfaatkan lahan kantor untuk persemaian. Sedikit demi sedikit kita isi tanah, siapkan bibit, lalu saat musim hujan kita tanam. Tahun ini targetnya 10 ribu pohon, bahkan bisa lebih,” ujarnya.
Frederik menambahkan, pengembangan tanaman produktif tersebut diharapkan tidak hanya memberi manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah.
“Menanam pohon bukan hanya soal penghijauan. Ini investasi jangka panjang untuk udara yang lebih bersih, lingkungan yang lebih sehat, dan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat NTT,” pungkasnya.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar