Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tak Berkategori » Stabilitas Yang Tak Pernah Ada: Iran, Amerika, Dan Dunia Yang Rapuh

Stabilitas Yang Tak Pernah Ada: Iran, Amerika, Dan Dunia Yang Rapuh

  • account_circle Hadi Supangat
  • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Stabilitas Yang Tak Pernah Ada: Iran, Amerika, Dan Dunia Yang Rapuh

R Aditya G
Penonton masalah sosial, ekonomi dan politik.

Konflik Iran–AS bukan sekedar ketegangan regional. Ia mencerminkan sistem internasional yang semakin sulit dikendalikan, di mana kekuatan besar tidak lagi sepenuhnya mampu menentukan arah, sementara aktor yang lebih lemah tetap dapat mengganggu keseimbangan tanpa harus memenangkan konflik.

Konflik ini sering dipahami secara terlalu sederhana—seolah-olah hanya pertarungan antara “negara pembangkang” melawan “penjaga tatanan global”, atau “korban imperialisme” melawan “hegemoni Barat”. Cara pandang seperti ini bukan hanya dangkal, tetapi juga menyesatkan, karena mengabaikan kompleksitas kepentingan yang saling bertabrakan.

Yang sedang berlangsung adalah benturan antara dua cara bertahan dalam sistem internasional yang sama-sama rapuh. AS berada pada posisi sebagai kekuatan status quo—berupaya mempertahankan tatanan global yang selama ini menguntungkan posisinya. Iran, di sisi lain, adalah penantang terbatas: tidak cukup kuat untuk menggantikan sistem, tetapi cukup mampu untuk terus mengganggunya.

Pada titik ini, konflik menjadi penting bukan karena siapa benar atau salah, melainkan karena bagaimana kedua aktor ini bergerak dalam sistem yang sama—dan bagaimana interaksi tersebut secara perlahan memunculkan risiko yang pada akhirnya melampaui kemampuan kendali masing-masing.

Warisan Sejarah: Kecil Tapi Menentukan Batas

Kudeta 1953, yang menggulingkan Mohammad Mossadegh dengan keterlibatan AS dan Inggris, sering dijadikan titik awal untuk memahami sikap Iran terhadap Barat. Namun dasar utamanya tidak terletak pada peristiwa tunggal itu, tetapi pada konsekuensi politik yang mengikutinya.

Konsolidasi kekuasaan di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi berlangsung melalui represi politik, pembatasan oposisi, dan pembangunan yang timpang. Bagi mayoritas warga Iran, ini bukan sekedar perubahan rezim, melainkan pengalaman politik yang membentuk cara pandang terhadap negara, kekuasaan, dan intervensi asing.

Dari sinilah memori kolektif terbentuk—bukan sebagai reaksi sesaat, melainkan sebagai akumulasi pengalaman panjang. Dalam konteks ini, Revolusi 1979 tidak dapat dipisahkan dari proses tersebut.

Namun, penjelasan historis saja tidak cukup. Sejarah menjelaskan mengapa kecurigaan itu ada, tetapi tidak sepenuhnya menjelaskan bagaimana Iran bertindak hari ini. Kebijakan luar negeri Iran tidak hanya dipengaruhi oleh ingatan masa lalu, tetapi juga oleh kalkulasi rasional.

Iran pasca-1979 secara konsisten menghindari konfrontasi langsung, sambil mempertahankan tekanan melalui jalur tidak langsung. Ini bukan hanya pilihan ideologis, melainkan reaksi terhadap ketimpangan kekuatan militer yang signifikan.

Strategi yang sering disebut sebagai “pertahanan maju” lebih tepat dipahami sebagai strategi asimetris: memanfaatkan jaringan aktor non-negara, tekanan terhadap titik-titik strategis, serta eskalasi yang terukur untuk mengimbangi lawan yang lebih kuat.

Namun di sinilah batasnya menjadi jelas: strategi ini efektif untuk menghindari kekalahan langsung, tetapi sekaligus menciptakan dinamika eskalasi yang tidak selalu dapat dikendalikan sepenuhnya.

Eskalasi, De-eskalasi, dan Ruang Abu-Abu

Perkembangan terbaru menunjukkan pola yang relatif konsisten: eskalasi dan de-eskalasi berlangsung secara bersamaan.

Serangan terhadap aset strategis, ancaman terhadap jalur perdagangan global seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, serta aktivitas aktor proksi menunjukkan peningkatan tekanan. Di saat yang sama, terdapat upaya untuk menahan konflik agar tidak berkembang menjadi perang terbuka.

Fenomena ini tidak bisa dilihat sebagai kontradiksi, melainkan konsekuensi dari keterbatasan kedua pihak.

AS tidak dapat menekan terlalu jauh tanpa memicu risiko eskalasi besar. Iran pun tidak dapat meningkatkan tekanan tanpa menghadapi konsekuensi yang lebih luas. Keduanya bergerak dalam ruang yang sama—bukan karena itu pilihan ideal, tetapi karena alternatifnya jauh lebih berisiko.

Ruang abu-abu ini menciptakan kesan bahwa konflik masih berada dalam kendali. Namun dalam kenyataannya, justru di ruang inilah risiko kesalahan kalkulasi paling besar berkembang.

Dalam situasi di mana eskalasi dilakukan secara terbatas dan tidak langsung, setiap aksi cenderung dibaca secara ambigu—tidak cukup besar untuk dianggap sebagai perang, tetapi juga tidak cukup kecil untuk diabaikan.
Ambiguitas ini membuat respon menjadi tidak pasti, dan dalam kondisi seperti itu, kesalahan penilaian semakin sulit dihindari.

Dalam konfigurasi ini, posisi Israel menjadi pusat gravitasi yang memperkuat dinamika tersebut. Bagi AS, keamanan Israel berkaitan langsung dengan kredibilitas globalnya. Bagi Iran, Israel menjadi titik tekan strategis yang memungkinkan perluasan pengaruh tanpa konfrontasi langsung.

Akibatnya, konflik ini tidak lagi bersifat bilateral, melainkan beroperasi sebagai rangkaian interaksi yang saling terhubung.

Dilema Amerika: Batas dari Kendali

Bagi AS, tujuan utamanya bukan pada kemenangan total, melainkan menjaga konflik tetap berada dalam batas yang dapat dikelola.
Namun dilema yang dihadapi bukan sekedar pilihan yang sulit, melainkan batas dari kemampuannya sendiri.

Menekan Iran terlalu keras berisiko memicu eskalasi yang tidak terkendali. Sebaliknya, menahan diri justru membuka ruang bagi Iran untuk memperkuat posisinya secara bertahap. Tidak ada opsi yang sepenuhnya bebas risiko.

AS bergerak di antara dua kemungkinan tersebut—cukup menekan untuk membatasi, tetapi tidak sampai memicu perang terbuka. Batas ini tidak pernah benar-benar jelas, dan cenderung terus bergeser.

Akibatnya, kebijakan yang dimaksudkan untuk menjaga stabilitas justru dapat menghasilkan ketidakstabilan baru.

Dalam konteks ini, keterbatasan bukan hanya pada pilihan kebijakan, tetapi pada kemampuan untuk mengendalikan konsekuensinya.

Strategi Iran: Tidak Menang, Tapi Tidak Kalah

Iran tidak berusaha mengalahkan AS secara langsung. Ia berupaya memastikan bahwa lawannya tidak dapat mencapai kemenangan dengan mudah.

Melalui jaringan proksi, tekanan terhadap jalur energi strategis, dan eskalasi terukur, Iran menciptakan kondisi di mana konflik dapat dipertahankan tanpa resolusi yang tegas.

Dalam logika ini, menghindari kekalahan sudah cukup untuk mengubah keseimbangan.
Seperti yang pernah dicatat oleh Henry Kissinger, “ _the conventional army loses if it does not win; the guerrilla wins if he does not lose_ .” Logika ini tercermin dalam pendekatan Iran: mempertahankan tekanan jangka panjang tanpa memasuki konfrontasi langsung yang berisiko tinggi.

Dampak Sistemik Konflik Regional

Konflik ini tidak lagi terbatas pada kawasan. Gangguan terhadap jalur energi seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb berdampak langsung pada harga energi, rantai pasok, dan stabilitas ekonomi global. Namun dampak yang bersifat global ini tidak serta-merta menghasilkan reaksi yang terkoordinasi.

Setiap negara merasakan tekanan yang berbeda—tergantung pada ketergantungan energi, kondisi ekonomi domestik, dan prioritas politik masing-masing.
Perbedaan ini membuat reaksi internasional cenderung terfragmentasi, bukan terkonsolidasi.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem internasional tidak benar-benar mengelola krisis, melainkan lebih sering bereaksi terhadapnya.

Stabilitas Semu yang Semakin Terfragmentasi

Sebagian pengamat nampak terlalu sederhana melihat dinamika ini sebagai tanda “keruntuhan Barat”.
Padahal, yang terjadi bukan keruntuhan seketika, melainkan melemahnya kohesi.

AS dan sekutunya masih memiliki kapasitas besar, tetapi semakin sulit mengkonsolidasikan respon secara konsisten.
Di dalam NATO, perbedaan kepentingan antar anggota membuat reaksi kolektif menjadi lebih lambat dan tidak selalu selaras.
Di kawasan Timur Tengah, negara-negara Arab bergerak dengan logika yang berbeda. Sebagian memilih menjaga jarak dari eskalasi, sementara yang lain bersikap lebih pragmatis dengan mempertimbangkan stabilitas domestik dan risiko regional.

Akibatnya, dukungan terhadap posisi AS tidak lagi otomatis, melainkan bergeser menjadi pilihan strategis yang terus dihitung ulang.

Di sisi lain, alternatif seperti BRICS juga belum cukup solid untuk menjadi penyeimbang yang stabil.
Dunia tidak sedang berpindah dari satu sistem stabil ke sistem stabil lainnya, sebaliknya justru bergerak menuju kondisi yang semakin terfragmentasi.

Dunia yang Tidak Pernah Stabil

Konflik Iran–AS mencerminkan fase peralihan dalam sistem internasional.
Resolusi total menjadi semakin kecil kemungkinannya.

Yang lebih realistis adalah pengelolaan konflik; menjaga ketegangan tetap berada di bawah ambang perang terbuka tanpa benar-benar menghilangkannya.

Namun pengelolaan semacam ini memiliki batas. Semakin lama konflik dipertahankan dalam kondisi “terkendali”, semakin besar kemungkinan bahwa kendali tersebut hanyalah ilusi.

Bahaya terbesar bukan pada konflik itu sendiri, melainkan pada keyakinan bahwa konflik masih dapat dihitung dan dikendalikan.

Sejarah menunjukkan bahwa eskalasi besar jarang dimulai dari niat untuk berperang, melainkan dari keyakinan bahwa risiko masih berada dalam batas aman.

Masalahnya, dalam sistem yang semakin kompleks, batas itu sendiri menjadi semakin kabur. Dan ketika terlalu banyak aktor merasa masih memegang kendali, justru di situlah kendali itu mulai hilang.

Bukan karena tidak ada yang rasional, melainkan karena terlalu banyak keputusan rasional yang berjalan ke arah yang saling bertabrakan.

Dunia mungkin tidak sedang menuju perang besar secara sengaja. Namun itu tidak berarti ia aman.

Karena dalam banyak kasus, perang besar tidak dimulai ketika seseorang ingin memulainya—melainkan ketika tidak ada lagi yang benar-benar mampu menghentikannya.

Dan mungkin, itu adalah bentuk ketidakstabilan paling berbahaya:
bukan ketika dunia kehilangan kendali secara tiba-tiba, melainkan ketika ia perlahan berhenti menyadari bahwa kendali itu sudah lama tidak sepenuhnya ada.

Warung Kopi, 27 Maret 2026

  • Penulis: Hadi Supangat

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Diduga Cemarkan Nama Baik, Roydi Laporkan Ketua Ormas Pijar Bengkulu ke Polisi

    Diduga Cemarkan Nama Baik, Roydi Laporkan Ketua Ormas Pijar Bengkulu ke Polisi

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 579
    • 0Komentar

    Bengkulu, JarrakPos –  Roydi , resmi melaporkan Ketua Ormas Pusat Informasi dan Jaringan Rakyat (Pijar) Provinsi Bengkulu, Apriansyah , ke Polresta Bengkulu atas dugaan pencemaran nama baik , Jumat (14/2/2025). Laporan tersebut dibuat setelah Apriansyah menuduh Roydi sebagai preman yang melakukan pungutan pembohong (pungli) dengan menarik retribusi parkir di kawasan Pantai Panjang. Selain itu, Apriansyah […]

  • Pemprov NTT Rapat Implementasi Hasil Pertemuan dengan 24 Kementerian/ Lembaga dan Gubernur DKI Jakarta

    Pemprov NTT Rapat Implementasi Hasil Pertemuan dengan 24 Kementerian/ Lembaga dan Gubernur DKI Jakarta

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Mario
    • visibility 1.629
    • 0Komentar

    NTT, Jarrakpos.com- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) gelar rapat khusus membahas implementasi hasil pertemuan antara Gubernur dan Kepala Daerah Provinsi NTT dengan 24 Kementerian/ Lembaga dan Gubernur DKI Jakarta. Rapat ini dipimpin langsung oleh Gubernur NTT, Melki Laka Lena didampingi Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma. Rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Gubernur pada Kamis […]

  • Bupati Cirebon: Hardiknas 2026 Momentum Lahirkan Generasi Cerdas Dan Kreatif

    Bupati Cirebon: Hardiknas 2026 Momentum Lahirkan Generasi Cerdas Dan Kreatif

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Hadi Supangat
    • visibility 164
    • 0Komentar

    CIREBON, JARRAKPOS.COM— Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2026 di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon berlangsung meriah dan sarat makna. Kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum untuk menegaskan pentingnya peran pendidikan dalam mendorong kemajuan daerah. Bupati Cirebon, Imron Rosyadi, dalam sambutannya menekankan bahwa kemajuan suatu daerah tidak dapat dipisahkan dari kualitas […]

  • Gerak Ceria, Jiwa Bahagia: Kadispora Ajak Pemuda Temukan Kebahagiaan Sejati Lewat Aktivitas Fisik

    Gerak Ceria, Jiwa Bahagia: Kadispora Ajak Pemuda Temukan Kebahagiaan Sejati Lewat Aktivitas Fisik

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 403
    • 0Komentar

    BENGKULU,Jarrakpos.com – Kebahagiaan sejati bukan hanya tentang kesuksesan materi, tapi juga tentang kesehatan mental yang prima. Kadispora Provinsi Bengkulu, Ika Joni Ikhwan, mengajak pemuda untuk menjadikan aktivitas fisik sebagai kunci membuka pintu kebahagiaan sejati, bukan hanya sekadar kesenangan sesaat. “Saat kamu berolahraga, rasakan energi positif mengalir dalam tubuhmu. Rasakan semangat membara dalam jiwamu. Di sana, […]

  • PPNI Perkuat Sinergi dengan Polda Bengkulu, Sukseskan Munas XI Tahun 2026

    PPNI Perkuat Sinergi dengan Polda Bengkulu, Sukseskan Munas XI Tahun 2026

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
    • account_circle Sepriyanita
    • visibility 27
    • 0Komentar

    BENGKULU, jarrakpos.com – Dewan Pengurus Wilayah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPW PPNI) Provinsi Bengkulu terus mematangkan persiapan pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) XI PPNI Tahun 2026. Salah satu upaya yang dilakukan yakni menjalin koordinasi dengan Polda Bengkulu melalui audiensi bersama Kapolda Bengkulu, Irjen Pol. Yudhi Sulistianto Wahid, S.I.K. Audiensi yang dipimpin Ketua DPW PPNI Provinsi Bengkulu, […]

  • Soal “Penipuan” Uang UKT Mahasiswa UMTS, Ini Klarifikasi Kedua Pihak

    • calendar_month Selasa, 25 Feb 2025
    • account_circle Syawal
    • visibility 2.043
    • 0Komentar

    Tapsel, (JarrakPos)- Berbicara soal dugaan penipuan uang UKT mahasiswa UMTS terdapat dua pendapat yang berlawan antara pihak manajemen kampus dengan pihak Terlapor MA. Ayah Muhammad Adrian (MA) selaku pihak terlapor yang sudah dijadikan Tersangka meminta Menteri HAM RI Nethalius Pigay dan Kapolri agar anaknya yang dituduh terlibat sebagai pelaku “Penipuan” uang UKT Mahasiswa Universitas Muhamadiyah […]

expand_less