Gebyar Langen Tayub Pacitan Bidik Rekor MURI, Bupati Aji: Budaya Harus Tetap Hidup dan Menyejahterakan Masyarakat
- account_circle Yuniardi Sutondo
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bupati Pacitan, KRT Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro (kiri) bersama Wakil Ketua MPR-RI Edhie Basokoro Yudhoyono saat gebyar Langen Tayub 2026.
Pacitan,JarrakPos-Gemuruh gamelan dan semangat pelestarian tradisi mewarnai Gebyar Langen Tayub Pacitan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10) malam.
Tak sekadar menjadi panggung ekspresi seni tradisional, perhelatan ini juga menjadi momentum bersejarah bagi Kabupaten Pacitan melalui upaya pencatatan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk pagelaran Langen Tayub terbanyak.
Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro, menyambut penuh apresiasi gelaran tersebut. Menurutnya, Langen Tayub bukan sekadar pertunjukan kesenian tradisional, melainkan bagian penting dari identitas, kekayaan budaya, dan jati diri masyarakat Pacitan yang harus terus dijaga lintas generasi.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan penghargaan kepada Dr. Edhie Baskoro Yudhoyono, B.Com., M.Sc. atau yang akrab disapa Mas Ibas, selaku pemrakarsa Gebyar Langen Tayub Pacitan, beserta Ibu Aliya Rajasa Baskoro Yudhoyono dan seluruh tim penyelenggara. Apresiasi juga diberikan kepada para peserta yang telah menunjukkan antusiasme dan partisipasi luar biasa dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Bupati berharap, ikhtiar pencatatan rekor MURI ini tidak berhenti sebagai pencapaian seremonial, tetapi menjadi pintu pembuka bagi semakin luasnya pengenalan seni budaya Pacitan kepada masyarakat nasional maupun dunia.
“Langen Tayub bukan sekadar pertunjukan kesenian tradisional, melainkan bagian dari identitas dan kekayaan budaya Pacitan. Di dalamnya terkandung nilai kebersamaan, kerukunan, gotong royong, serta warisan tradisi yang patut kita jaga dan teruskan lintas generasi,” pesan Bupati Indrata.
Berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Gebyar Langen Tayub Pacitan menghadirkan pesan penting tentang peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan daerah.
Bupati menegaskan, pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah perkembangan seni tradisional. Sebaliknya, generasi muda perlu mengambil bagian sebagai pelaku, penggerak, sekaligus pelestari kebudayaan.
Menurutnya, kemajuan zaman dan kreativitas generasi muda harus berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap akar budaya. Dengan demikian, tradisi tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup, berkembang, dan memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern.
Semangat tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa peringatan Sumpah Pemuda bukan hanya tentang mengenang sejarah perjuangan bangsa, melainkan juga memperkuat komitmen generasi penerus dalam merawat keberagaman dan kekayaan budaya Indonesia.
Lebih jauh, Bupati melihat Langen Tayub sebagai salah satu potensi strategis untuk memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Pacitan.
Selama ini, Pacitan dikenal luas berkat keindahan alam dan destinasi wisatanya. Namun, di balik pesona pantai, gua, dan bentang alamnya, Pacitan juga menyimpan kekayaan seni serta tradisi yang berpeluang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Langen Tayub, dengan kekhasan gerak tari, iringan gamelan, tembang sinden, dan keterlibatan komunitas seni, dinilai memiliki ruang besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata budaya.
Potensi tersebut sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para penari, sinden, pengrawit, kelompok seni, dan masyarakat yang terlibat dalam ekosistem pertunjukan tradisional.
Karena itu, Bupati menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas seni, pelaku pariwisata, dan masyarakat. Perluasan ruang pertunjukan, penguatan promosi kesenian lokal, serta keterhubungan dengan destinasi wisata Pacitan menjadi langkah yang dapat ditempuh agar manfaat pelestarian budaya semakin dirasakan secara nyata.
Meski demikian, pengembangan tersebut harus tetap berpijak pada nilai, sejarah, dan jati diri Langen Tayub. Orientasi ekonomi, menurutnya, tidak boleh menggeser esensi kebudayaan yang menjadi akar identitas masyarakat.
Pencatatan Rekor MURI dalam Gebyar Langen Tayub Pacitan menjadi momentum kebanggaan sekaligus kesempatan untuk membawa kesenian daerah ke panggung yang lebih luas.

Gebyar Langen Tayub pecahkan rekor MURI 2026.
Namun, bagi Bupati Indrata, capaian rekor bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Ukuran yang lebih mendasar adalah kemampuan masyarakat untuk terus menghidupkan kesenian tersebut, menumbuhkan kecintaan generasi muda, meningkatkan kesejahteraan para pelakunya, serta menjaga keluhuran nilai yang diwariskan para pendahulu.
“Rekor adalah sebuah pencapaian, tetapi keberhasilan sejati adalah ketika kesenian ini terus hidup, dicintai generasi muda, meningkatkan kesejahteraan para pelakunya, dan tetap terjaga keluhuran nilainya,” tegas Bupati berlatar Partai Demokrat ini.
Pesan itu menempatkan kebudayaan bukan semata-mata sebagai warisan yang dipelihara, melainkan juga sebagai kekuatan pembangunan yang mampu menyatukan masyarakat, menggerakkan ekonomi lokal, dan memperkuat karakter daerah.
Bupati berharap momentum Gebyar Langen Tayub Pacitan dapat menumbuhkan semangat bersama untuk membangun daerah yang semakin maju tanpa kehilangan jati diri, sekaligus menjadikan kebudayaan sebagai salah satu fondasi menuju masyarakat yang semakin sejahtera dan bahagia.
Menutup sambutannya, Bupati menyampaikan terima kasih kepada Mas Ibas beserta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia juga memanjatkan doa agar keluarga besar Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, senantiasa dianugerahi kesehatan, keberkahan, dan umur panjang, sehingga dapat terus memberikan kontribusi bagi pembangunan Pacitan dan Indonesia.
Gebyar Langen Tayub Pacitan membawa pesan yang lebih dalam daripada sekadar perhelatan seni dan pencatatan rekor. Di tengah perubahan zaman, tradisi tetap memiliki tempat penting sebagai penanda identitas, perekat kebersamaan, sekaligus sumber daya yang dapat mengantarkan Pacitan menuju masa depan tanpa tercerabut dari akar budayanya.(Red/yun).
- Penulis: Yuniardi Sutondo





Saat ini belum ada komentar