Cita Madani Melalui Program Swipe Safe Perkuat Peran Guru, Kadis Pendidikan NTT Tekankan Pengawasan Anak di Ruang Digital
- account_circle Mario
- calendar_month Senin, 15 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Perkembangan teknologi digital yang kian cepat menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi.
Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Cita Madani bersama ChildFund International di Indonesia menggelar Pelatihan Aplikasi Swipe Safe bagi para guru di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran guru sebagai garda terdepan perlindungan anak di ruang digital, berlangsung di Neo Hote Kupang pada Senin, 15 Desember 2025.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif Cita Madani dan ChildFund.
Menurutnya, teknologi saat ini berkembang sangat pesat dan memungkinkan siapa pun, termasuk anak-anak, mengakses berbagai informasi hanya dengan satu sentuhan jari.
Tanpa sistem yang kuat dan pengawasan yang terarah, anak-anak berpotensi terjebak dalam penggunaan internet yang tidak sehat.
“Kalau kita tidak memperkuat pengawasan dari guru dan sistem pendidikan, anak-anak bisa terjerumus pada pola pikir instan, relasi digital yang tidak wajar, dan konten yang justru menghambat masa depan mereka,” tegas Ambrosius.
Ia memastikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT mendukung penuh program ini dan siap berkolaborasi melalui monitoring, pengendalian, serta evaluasi di sekolah-sekolah, khususnya di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.
Ambrosius juga berharap para guru mengikuti pelatihan ini dengan sungguh-sungguh dan kemudian menjadi fasilitator di lingkungan masing-masing.
Dengan efek berantai, literasi internet aman dapat menyebar lebih luas. Kehadiran Aplikasi Swipe Safe dinilai sebagai alat bantu penting untuk pengendalian, monitoring, dan pengawasan penggunaan internet oleh peserta didik, dengan dukungan aktif dari orang tua.
Sementara itu, Direktur Yayasan Cita Madani, Silvester Seno, menegaskan bahwa dunia digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak dan remaja.
Data APJII menunjukkan sekitar sepertiga pengguna internet di Indonesia adalah anak-anak.
Di balik peluang belajar dan berekspresi, terdapat risiko serius seperti perundungan siber, penipuan daring, hingga eksploitasi seksual berbasis elektronik.
“Melalui Program Swipe Safe Phase II/Program BERDAYA (2025–2026), ChildFund International bersama Cita Madani berupaya memperkuat sistem perlindungan anak di ruang digital dengan dukungan Dinas Pendidikan Provinsi NTT serta dinas pendidikan kabupaten dan kota,” ujar Sil Seno.
Pelatihan guru yang dilaksanakan selama dua hari ini diharapkan melahirkan fasilitator keamanan digital yang mampu mendampingi murid sekaligus menjadi penghubung antara sekolah dan keluarga.
Sil menambahakan, kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi tumbuh menjadi budaya sekolah yang aman, inklusif, dan ramah anak, sebuah ikhtiar bersama untuk menjaga masa depan generasi NTT di tengah arus digital yang terus berkembang.
Dari sisi pendidik, kegiatan ini disambut antusias. Margareta Fernandes, Guru SMK Negeri 4 Kota Kupang, mengaku sudah mengenal Swipe Safe melalui kegiatan MPLS di sekolahnya.
Namun, pelatihan lanjutan ini memberikan penguatan yang lebih mendalam dan relevan dengan tantangan zaman.
Ia menilai program ini sebagai terobosan yang menjawab dampak teknologi terhadap karakter anak, terutama karena guru memiliki kedekatan langsung dengan siswa di sekolah.
Margareta berharap kegiatan serupa dapat menjangkau wilayah pedalaman. Menurutnya, masyarakat di luar perkotaan masih berada pada tahap awal mengenal teknologi, sehingga pencegahan sejak dini sangat penting agar anak-anak tidak terjerumus pada dampak negatif dunia digital.
Hal serupa disampaikan Melkianus Selly, Guru SMA Negeri 9 Kota Kupang. Ia menilai Aplikasi Swipe Safe sebagai media edukatif yang tidak hanya mengajarkan literasi digital, tetapi juga nilai sopan santun dan pengendalian diri.
Dengan dukungan fasilitas laboratorium komputer di sekolah, ia optimistis implementasi Swipe Safe akan berjalan efektif dan memberi dampak positif bagi pembentukan karakter siswa.
Penanggung Jawab Program Swipe Safe dari Yayasan Cita Madani, Evi Daros, menjelaskan bahwa pelatihan ini difokuskan pada pemahaman konsep internet aman serta pendalaman praktik penggunaan aplikasi Swipe Safe.
Hingga saat ini, sebanyak 15 sekolah di Kota dan Kabupaten Kupang telah menginstal aplikasi tersebut. Secara bertahap, program ini menargetkan 30 sekolah jenjang SMP, SMA, dan SMK, dengan perluasan lanjutan pada tahun berikutnya.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar