Brazil vs Norwegia, Syafril: Ambisi Patahkan Rekor Buruk
- account_circle Syawal
- calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Medan – Brazil dan Norwegia akan saling berhadapan pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey, Minggu, dalam perebutan satu tiket menuju perempat final.
Brazil diunggulkan berkat pertahanan kokoh yang baru kebobolan satu gol sepanjang fase grup. Meski Norwegia memiliki Erling Haaland yang sangat berbahaya di lini depan, kerapuhan lini belakang mereka yang sudah kemasukan tujuh gol akan menjadi sasaran empuk bagi kecepatan para penyerang Tim Samba.
Laga ini penuh gengsi serta marwah. Brazil harus dipertahankan dan begitu juga Norwegia. Pertandingan ini tidak bisa dianggap enteng karena Norwegia ini adalah tim yang mempunyai penyerang gelandang yang mapan. Jika hal ini Brazil ikut langgam Norwegia akan tamat, namun Brazil jika masih bermain samba nya akan kehilangan pola bermain dan mudah di baca oleh lawan yang selalu mengintip permainan Brazil.
“Saya yakin jika pelatih nya harus meninggal kan samba dan merubah dengan permainan satu dua (one two)
Saya yakin Brazil dapat mengatasi Norwegia, tapi kita lihat permainan Brazil pasti merubah pola dengan satu dua dengan mengacau kan pertahanan Norwegia dan shooting Brazil sangat akurat dan baik tendangan pisang nya yang juga dikuasai oleh anak2 Brazil yang dalam hal ini akan berjuang untuk memenangkan pertandingan dengan Norwegia” mantan pemain PSMS, Syafril SH, dalam pesan wasthap nya, Sabtu (4/7)
“Jika hal ini yang di pakai oleh Norwegia dengan kondisi over pendek one two dan memanfaatkan kan tendangan jarak jauh nya akan berhasil untuk kemenangan Norwegia , tapi saya masih yakin Brazil masih unggul dalam pertandingan ini,” sebut pria yang berprofesi sebagai lawyer
Nah, kata Syafril, untuk melihat jika Brazil main seperti sama Jepang akan merepot kan Norwegia bila hal ini tidak terjaga rapat maka Norwegia akan banyak ke bobolan dalam pertandingan.
Pasalnya, bek dan stoper Brazil hampir rata bermain taktis dan lugas, begitu juga gelandang Brazil aliran bola nya cukup akurat dan lugas karena Jepang kalah nya adalah overan yang tidak disangka Jepang sangat akurat gol gol nya semua bersih dan terpola dalam permainan Brazil ini yang dilihat dan dirubah oleh pelatih nya, kita lihat malam ini Norwegia jika tidak man to man marking akan hancur diludes Brazil
Jika man to man marking di jalan kan oleh Norwegia akan menyulitkan Brazil dalam, maka kita coba melihat Norwegia buat man to man marking bisa kosong kosong pertandingan namun menang dalam adu pinalti, tapi Brazil kunci nya harus merubah permainan harus one two dan jika tidak malam ini Brazil pulang kandang tapi saya menjago kan Brazil semoga permainan Brazil berubah dari bawah sampai tengah dan striker, dan aliran bola nya dari bawah sampai keatas terencana dan terprogram dengan arah bola yg akurat serta melebar permainan ini, selamat buat Brazil semoga menang ,” katanya
Pertemuan ini menghadirkan catatan unik bagi Brasil. Selecao belum pernah menang atas Norwegia dalam empat pertemuan sebelumnya.
Pertemuan paling dikenang terjadi di Piala Dunia 1998 ketika Brasil yang sempat unggul harus menyerah 2-1 di laga fase grup. Hingga kini, Brasil masih belum mampu mematahkan rekor tersebut, termasuk setelah bermain imbang 1-1 dalam laga persahabatan pada 2006.
Situasi itu menjadi tantangan tersendiri bagi Carlo Ancelotti. Pelatih asal Italia tersebut sempat berada dalam tekanan ketika Brasil tertinggal dari Jepang di babak 16 besar.
Kaishu Sano membawa Jepang unggul lebih dulu pada menit ke-30. Namun Ancelotti mengubah strategi menjadi formasi 4-2-4 setelah memasukkan Endrick.
Perubahan itu terbukti efektif. Casemiro menyamakan kedudukan melalui sundulan, sebelum Gabriel Martinelli mencetak gol kemenangan dramatis pada masa injury time babak kedua.
Brasil kini bertekad melangkah lebih jauh setelah sejak menjuarai Piala Dunia 2002 belum lagi mampu mengangkat trofi. Mereka ingin menghindari kegagalan tersingkir di babak 16 besar seperti yang terakhir dialami pada edisi 1990.
Di sisi lain, Norwegia datang dengan rasa percaya diri tinggi. Tim asuhan Stale Solbakken tampil produktif sepanjang turnamen dengan selalu mencetak gol di setiap pertandingan.
Satu-satunya kekalahan mereka terjadi saat menghadapi Prancis ketika memainkan banyak pemain pelapis dan tumbang 1-4 pada laga terakhir fase grup.
Kini, dengan kekuatan utama kembali dimainkan, Norwegia optimistis mampu membuat kejutan lain melawan salah satu favorit juara.
- Penulis: Syawal




Saat ini belum ada komentar