Pacitan Siapkan Gebyar Langen Tayub 5.528 Penari, Dr. Arif Setia Budi: Momentum Merawat Warisan Budaya dan Semangat Sumpah Pemuda
- account_circle Yuniardi Sutondo
- calendar_month 10 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pembina Langen Beksan Pacitan yang juga Ketua DPRD Pacitan, Dr. Arif Setia Budi, S.Sos, MPA.
Pacitan,JarrakPos.com-Kabupaten Pacitan bersiap menorehkan catatan penting dalam perjalanan pelestarian seni tradisional melalui Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026. Mengusung target keterlibatan 5.528 penari, perhelatan budaya ini dirancang menjadi momentum memperingati Hari Sumpah Pemuda sekaligus upaya memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026 merupakan gagasan yang diprakarsai Wakil Ketua MPR-RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian seni tradisional sekaligus menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap kekayaan budaya daerah. Gagasan tersebut diharapkan menjadi ruang kolaborasi berbagai elemen masyarakat untuk mengangkat Langen Tayub sebagai warisan budaya yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Persiapan kegiatan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang melibatkan unsur terkait dan pegiat seni budaya. Lebih dari sekadar mematangkan teknis penyelenggaraan, rapat ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan sebuah peristiwa budaya yang tidak hanya meriah secara jumlah, tetapi juga kuat dalam makna.
Ketua DPRD Pacitan, Dr. Arif Setia Budi, S.Sos., MPA, yang juga Pembina Langen Beksan Pacitan, menempatkan agenda ini sebagai kesempatan penting untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap seni tradisional. Baginya, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang dipertontonkan sesekali, melainkan warisan kehidupan yang perlu dirawat, dihidupkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Target 5.528 penari menjadi daya tarik utama dalam Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026. Angka tersebut bukan semata-mata tentang besarnya sebuah pertunjukan, melainkan simbol harapan agar masyarakat dari berbagai lapisan dapat bertemu dalam satu ruang kebudayaan.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin menunjukkan bahwa seni tradisional memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat. Semangat yang digagas melalui Gebyar Langen Tayub ini perlu kita dukung bersama, agar pelestarian budaya tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar tumbuh dalam kehidupan masyarakat,” ujar Arif Setia Budi, yang akrab disapa ASB, Senin (26/10).
Pelajar, generasi muda, kelompok seni, hingga masyarakat umum diharapkan mengambil bagian dalam perhelatan yang direncanakan berlangsung pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.
Dalam konteks ini, Langen Tayub memperoleh ruang baru sebagai medium pemersatu. Seni yang selama ini tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat Jawa dihadirkan dalam skala besar, mempertemukan tradisi dengan semangat kebangsaan.
Rapat koordinasi menjadi langkah strategis untuk memastikan seluruh unsur persiapan berjalan selaras, mulai dari konsolidasi peserta, kesiapan teknis, koordinasi antarpihak, hingga pemenuhan ketentuan pencatatan rekor.
Target rekor MURI pun menjadi tantangan sekaligus motivasi. Namun, capaian tersebut nantinya tetap bergantung pada pelaksanaan dan verifikasi resmi sesuai ketentuan lembaga pencatat rekor.
Langen Tayub memiliki tempat tersendiri dalam lanskap kebudayaan Jawa. Perpaduan gerak tari, iringan gamelan, tembang, dan interaksi sosial menjadikannya lebih dari sekadar tontonan. Di dalamnya terdapat ruang perjumpaan, ekspresi kegembiraan, serta hubungan sosial yang tumbuh di tengah masyarakat.
Di Pacitan, kesenian tayub terus memperoleh ruang melalui kegiatan paguyuban, pertunjukan di tingkat kecamatan, serta keterlibatan para seniman dan masyarakat. Antusiasme tersebut memperlihatkan bahwa seni tradisional tetap memiliki daya hidup di tengah perubahan zaman.
Sebagai Pembina Langen Beksan Pacitan, ASB memandang upaya pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama. Tradisi tidak cukup hanya dikenang atau dibicarakan, tetapi harus terus dipraktikkan dan diberi ruang agar tetap dekat dengan kehidupan generasi muda.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya populer, keberadaan kesenian tradisional menghadirkan pengingat bahwa kemajuan tidak semestinya membuat masyarakat tercerabut dari akar budayanya sendiri. Justru melalui kegiatan seperti Gebyar Langen Tayub, warisan leluhur dapat diperkenalkan dengan cara yang lebih luas, terbuka, dan relevan dengan kehidupan masa kini.
Pemrakarsaan kegiatan oleh Wakil Ketua MPR-RI Edhie Baskoro Yudhoyono juga menempatkan Gebyar Langen Tayub sebagai momentum untuk mempertemukan perhatian terhadap kebudayaan daerah dengan semangat persatuan nasional. Dukungan dan keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat memperluas ruang apresiasi terhadap seni tradisional, sekaligus mendorong generasi muda untuk mengenal dan meneruskan warisan budaya bangsa.
Menurut ASB, pemilihan momentum Hari Sumpah Pemuda memberikan dimensi kebangsaan yang kuat bagi perhelatan ini. Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan latar belakang tidak menghalangi masyarakat untuk berdiri dalam satu cita-cita bersama.
Semangat itu menemukan relevansinya dalam panggung Langen Tayub. Beragam kelompok masyarakat, usia, dan latar belakang dipertemukan melalui kesenian yang berakar pada tradisi Jawa.
Jika Sumpah Pemuda dahulu menjadi tonggak penting dalam perjalanan persatuan bangsa, maka pelestarian budaya pada masa kini merupakan salah satu cara merawat semangat tersebut. Identitas kebangsaan tidak hanya dibangun melalui bahasa dan sejarah, tetapi juga melalui penghargaan terhadap kekayaan budaya yang tumbuh di berbagai daerah.
Pacitan memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa seni tradisional mampu menjadi jembatan antargenerasi. Para pelaku seni menjaga kesinambungan tradisi, sementara generasi muda memperoleh ruang untuk mengenal, mempelajari, dan meneruskannya.
Dengan demikian, Gebyar Langen Tayub tidak berhenti sebagai agenda pertunjukan, tetapi dapat menjadi pernyataan bersama bahwa kebudayaan tetap memiliki tempat penting dalam perjalanan masyarakat modern.
Bagi ASB, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan kesinambungan. Peran pemerintah, lembaga legislatif, pemrakarsa kegiatan, paguyuban seni, komunitas, keluarga, dan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisional.
Semangat tersebut menjadi landasan bagi upaya menghadirkan Langen Tayub dalam skala yang lebih luas. Melalui kegiatan ini, Pacitan diharapkan bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena masyarakatnya yang memiliki kepedulian terhadap warisan budaya.
Dalam perspektif kebudayaan, keberhasilan sebuah perhelatan tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta atau penghargaan yang diperoleh. Ukuran yang tidak kalah penting ialah sejauh mana kegiatan tersebut menumbuhkan kebanggaan, memperkuat kebersamaan, dan mendorong lahirnya generasi penerus yang bersedia menjaga tradisi.
“Budaya tidak cukup hanya dikenang sebagai warisan masa lalu. Budaya harus terus dihidupkan, diberi ruang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat,” pungkas ASB.
Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026 membawa harapan besar bagi perjalanan seni tradisional di daerah berjuluk Kota 1001 Gua tersebut. Target 5.528 penari menjadi gambaran ambisi kolektif untuk menghadirkan pertunjukan berskala besar sekaligus memperluas perhatian masyarakat terhadap kesenian lokal.
Namun, di balik angka itu, terdapat pekerjaan yang lebih panjang: memastikan kesenian tetap hidup setelah panggung usai, gamelan berhenti berbunyi, dan para penari kembali ke kehidupan sehari-hari.
Sebab, rekor dapat menjadi catatan sejarah, tetapi keberlanjutan budaya ditentukan oleh kesediaan masyarakat untuk terus menjaganya.
Melalui koordinasi dan keterlibatan berbagai unsur, Pacitan berupaya menjadikan Gebyar Langen Tayub sebagai ruang perjumpaan antara tradisi dan masa depan. Sebuah panggung tempat generasi muda belajar menghargai akar budayanya, masyarakat mempererat persaudaraan, dan para pelaku seni memperoleh kesempatan untuk menunjukkan bahwa warisan leluhur tetap relevan.
Ketika ribuan penari bergerak dalam irama yang sama, yang hendak ditampilkan bukan hanya keindahan gerak tari, melainkan juga pesan tentang kebersamaan.
Dari Pacitan, Langen Tayub diharapkan terus bertumbuh, melampaui batas panggung, menembus pergantian zaman, dan menjadi bagian dari kebanggaan budaya Indonesia.(Red/yun).
- Penulis: Yuniardi Sutondo





Saat ini belum ada komentar