Pelatihan UNICEF dan DBS Foundation Ubah Cara Guru Mengajar Literasi-Numerasi di Sekolah Dasar Kupang
- account_circle Mario
- calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Bagi sejumlah guru sekolah dasar di Kabupaten Kupang, pelatihan literasi dan numerasi yang digelar UNICEF bersama DBS Foundation bukan sekadar menambah pengetahuan. Pelatihan tersebut membuka cara pandang baru tentang bagaimana mengajarkan anak membaca, mengenal angka, hingga memahami pelajaran dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan kondisi mereka.
Perubahan itu dirasakan langsung para guru yang mengikuti Pelatihan Literasi dan Numerasi Kelas Awal serta Pendidikan Gizi yang berlangsung pada 30 September–3 Oktober 2026 di Hotel Silvia Premiere Kupang.
Salah satunya dirasakan Feby Taneo, guru SD GMIT Oenunutono. Sebagai guru yang belum genap setahun mengajar, ia mengaku menghadapi tantangan ketika harus mengajarkan berbagai mata pelajaran kepada siswa.
Latar belakangnya sebagai guru Bahasa Inggris membuatnya harus mencari berbagai cara ketika mengajarkan pelajaran lain, termasuk matematika.
“Kesulitan yang paling besar itu contohnya matematika. Saya harus banyak cara untuk mengajarkan anak mengenal bilangan, jadi saya kewalahan dalam berbagai metode,” kata Feby.
Namun, setelah mengikuti pelatihan, ia menemukan pendekatan yang menurutnya lebih mudah diterapkan.
“Saya bisa menemukan titik saya harus mengajarkan anak dari bagian ini ke situ sampai anak bisa menjawab dengan benar,” ujarnya.
Dari Suku Kata ke Bunyi
Bagi Feby, salah satu materi yang paling mengubah cara berpikirnya adalah metode mengajarkan membaca.
Selama ini, ia terbiasa mengajarkan anak membaca dengan langsung mengenalkan suku kata. Namun, dalam pelatihan, ia mendapatkan pemahaman bahwa proses tersebut dapat dimulai dari pengenalan bunyi terlebih dahulu.
“Dari pelatihan ini metode yang paling menarik untuk membaca. Saya biasanya mengajar langsung dengan mengenal suku kata. Dari pelatihan ini, ternyata harus dari bunyinya dulu,” tuturnya.
Begitu pula dalam pembelajaran matematika. Anak tidak langsung diarahkan memahami simbol angka, tetapi terlebih dahulu diajak menggunakan benda konkret atau gambar sebelum masuk pada simbol.
Menurut Feby, pendekatan tersebut membuat guru perlu menyesuaikan metode dengan kondisi dan kemampuan masing-masing anak.
“Yang perlu diubah itu cara atau metode yang kita pakai dalam mengajar. Kalau kita menggunakan metode yang terfokus dengan modul, tidak dapat, karena kita harus menyesuaikan kembali dengan keadaan anak,” katanya.
Ia bahkan memberikan perhatian khusus kepada siswa yang masih mengalami kesulitan. Pada waktu istirahat atau jam kosong, anak tersebut dipanggil untuk mendapatkan bimbingan membaca secara khusus.
Sepulang dari pelatihan, Feby berkomitmen memperbaiki metode pembelajarannya dengan menerapkan pendekatan yang diperoleh selama kegiatan.
“Saya berharap pelatihan-pelatihan ini jangan sampai di sini saja, tetapi terus berjalan sehingga kita sebagai guru, terutama guru-guru muda, masih harus terus belajar,” ujarnya.
Buku di Perpustakaan Masih Terbatas
Persoalan literasi di sekolah juga tidak terlepas dari ketersediaan bahan bacaan.
Referson Abineneo, pengurus perpustakaan UPTD SD Negeri Besleu, mengatakan sekolahnya memang memiliki buku, tetapi sebagian besar merupakan buku keluaran lama.
“Buku cukup, tapi masih kurang juga terkait buku pembelajaran, terutama literasi anak-anak. Buku yang kami ada ini buku pengeluaran lama, sedangkan buku-buku baru dengan kegiatan yang kami laksanakan ini masih kurang,” katanya.
Menurut Referson, minat membaca sebenarnya sudah terlihat, terutama pada anak-anak kelas rendah yang sedang berusaha meningkatkan kemampuan membaca.
Persoalannya, pilihan bacaan yang tersedia masih terbatas sehingga anak-anak cenderung membaca buku yang sama berulang kali.
“Yang antusias membaca ini kebanyakan anak-anak di tingkat rendah, untuk mengasah kemampuan membaca. Buku kita masih belum mencukupi,” ujarnya.
Pelatihan yang diikuti juga memberikan gagasan baru baginya dalam mengelola perpustakaan dan mendukung pembelajaran.
Ia tertarik menerapkan pembelajaran kontekstual dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar sekolah.
“Contoh sampah-sampah yang ada, kita bisa buat metode pembelajaran dengan mengenal situasi dan barang-barang di lingkungan sekitar dengan pemahaman peningkatan baca mereka,” jelasnya.
Anak Kelas Awal Masih Berjuang Membaca
Kondisi serupa juga menjadi perhatian Kepala UPTD SD Inpres Kiupakes, Yuliana Ferderika Baitanu.
Ia mengatakan kemampuan membaca siswa kelas awal masih menjadi tantangan di sekolahnya. Untuk siswa kelas III, kemampuan membaca dinilai sudah lebih baik. Namun, di kelas I dan II masih terdapat anak yang harus mengeja.
“Untuk kelas 1 masih banyak yang mengeja, tapi mereka sudah berlomba-lomba untuk bisa belajar mengenal kata, suku kata dan fonem,” ungkap Yuliana.
Dari pelatihan tersebut, ia semakin memahami pentingnya menggunakan berbagai media agar anak dapat mengenal huruf, kemudian berkembang menuju suku kata dan kata.
Dalam numerasi, media juga diperlukan agar anak memahami penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.
“Intinya harus banyak media baru anak-anak bisa mengenal tentang literasi dan numerasi,” katanya.
Yuliana juga mengakui buku cerita di perpustakaan sekolahnya masih terbatas, terutama buku cerita bergambar.
Karena itu, dukungan terhadap bahan bacaan menjadi salah satu kebutuhan penting sekolah dalam memperkuat budaya literasi.
Setelah kembali ke sekolah, Yuliana berencana menggelar rapat bersama para guru untuk membagikan pengetahuan yang diperoleh dan menyusun langkah penerapannya.
“Saya akan memulai dengan rapat bersama guru, dewan guru, untuk kita bisa menjabarkan materi yang kita dapat di sini sehingga kita bisa bersepakat agar anak-anak bisa mendapatkan tujuan pembelajaran yang kami ajarkan di sini,” katanya.
Ia berharap UNICEF dapat terus memberikan pelatihan dan pendampingan.
Bagi Yuliana, ilmu yang diperoleh tidak boleh berhenti pada dirinya sebagai peserta pelatihan.
“Jangan mubazir saja, tetapi tetap saya akan bagikan agar teman-teman guru juga terapkan di sekolah,” tegasnya.
Pemkab Siapkan Tindak Lanjut
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kupang, Marthen Rahakbauw, menyampaikan apresiasi kepada UNICEF dan DBS Foundation yang telah mendukung peningkatan kapasitas guru, kepala sekolah dan pengelola perpustakaan.
Menurut Marthen, pendekatan kontekstual yang diperoleh peserta dapat ditindaklanjuti melalui penerapan di sekolah dengan pendampingan fasilitator dan pengawas.
“Ini hal positif yang dapat diambil sehingga komitmen kita ke depan kita akan mendukung ini untuk peningkatan literasi, numerasi maupun gizi di masing-masing sekolah satuan pendidikan,” katanya.
Ia memastikan praktik baik yang diperoleh tidak hanya diterapkan di sekolah peserta pelatihan.
“Kita akan replikasi ke sekolah lainnya,” tegas Marthen.
Terkait sekolah yang belum memiliki perpustakaan, Marthen mengatakan sekolah dapat mengusulkan kebutuhan tersebut melalui program revitalisasi yang sedang berlangsung.
Ia juga mengingatkan sekolah untuk memperbarui data pokok pendidikan (Dapodik), termasuk data sarana dan prasarana, sehingga kebutuhan sekolah dapat diketahui dan diusulkan melalui program yang tersedia.
Sementara terkait kekurangan buku, Marthen menyebut sekolah dapat memanfaatkan anggaran BOS untuk pengadaan buku teks maupun buku pendukung sesuai ketentuan.
“Minimal 10 persen atau 20 persen itu pengadaan untuk buku-buku teks maupun buku-buku pendukungnya,” katanya.
Ia juga mengakui masih terdapat kekurangan tenaga kependidikan yang menangani perpustakaan. Untuk sementara, sekolah dapat menugaskan guru untuk membantu mengelola perpustakaan secara baik, sembari pemerintah secara bertahap memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan.
Dengan demikian, pelatihan yang didukung UNICEF dan DBS Foundation diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan peningkatan kapasitas, tetapi benar-benar mengubah cara guru mengajar dan memperkaya pengalaman belajar anak.
Dari mengenalkan bunyi sebelum membaca, menggunakan benda konkret sebelum mengenalkan simbol angka, hingga memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media belajar, perubahan kecil di ruang kelas diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun fondasi literasi dan numerasi anak Kabupaten Kupang.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar