Tarian, Busana Adat dan UMKM Semarakkan Festival Budaya Multi Etnis NTT di Manulai II
- account_circle Mario
- calendar_month 9 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Warna-warni budaya Nusa Tenggara Timur berpadu dalam suasana penuh kebersamaan di Kelurahan Manulai II, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Kamis (1/10/2026).
Tarian tradisional, busana adat dari berbagai etnis, hingga aktivitas pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menyemarakkan Festival Budaya Multi Etnis NTT Kelurahan Manulai II Tahun 2026 yang digelar di Halaman Kantor Kelurahan Manulai II.
Antusiasme masyarakat terlihat dalam kegiatan tersebut. Warga hadir menyaksikan berbagai pertunjukan budaya sekaligus mengambil bagian dalam sebuah perayaan yang mempertemukan beragam latar belakang etnis dalam satu ruang kebersamaan.
Festival itu tidak hanya menjadi panggung bagi para penari dan pelaku seni. Kehadiran UMKM juga memberi warna tersendiri, menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi di tengah perayaan budaya.
Pesan tentang pentingnya menjaga keberagaman dan warisan budaya NTT turut disampaikan dalam sambutan Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo yang dibacakan Camat Alak, Amramsius Yolah, saat membuka kegiatan.
Dalam sambutannya, disampaikan bahwa festival budaya tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni, tetapi di dalamnya terdapat identitas, sejarah, nilai-nilai leluhur dan jati diri masyarakat NTT yang perlu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Festival budaya seperti ini bukan sekadar sebuah pertunjukan seni. Di dalamnya ada identitas, sejarah, nilai-nilai leluhur dan jati diri masyarakat Nusa Tenggara Timur yang terus kita wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” demikian pesan tersebut.
Kota Kupang sendiri disebut sebagai rumah bagi masyarakat dari berbagai latar belakang etnis dan budaya. Timor, Rote, Sabu, Sumba, Flores, Alor, Lembata dan berbagai komunitas lainnya hidup berdampingan sebagai bagian dari masyarakat Kota Kupang.
Perbedaan tersebut bukan alasan untuk saling menjauh. Justru keberagaman menjadi kekuatan yang membuat Kota Kupang semakin kaya, dinamis dan memiliki karakter.
Karena itu, Festival Budaya Multi Etnis NTT di Manulai II dinilai penting sebagai ruang untuk merawat budaya sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.
Pesan lain yang mengemuka dalam festival tersebut adalah pentingnya memastikan budaya tidak berhenti sebagai sesuatu yang hanya ditampilkan ketika ada kegiatan seremonial.
Generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal budaya melalui buku atau media sosial, tetapi juga melihat, mendengar dan merasakan secara langsung bagaimana budaya hidup di tengah masyarakat.
“Budaya harus tetap hidup di tengah perubahan zaman,” demikian pesan dalam sambutan tersebut.
Modernisasi dan perkembangan teknologi, lanjutnya, tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya.
“Masyarakat yang maju bukan masyarakat yang melupakan masa lalunya, melainkan masyarakat yang mampu membawa nilai-nilai baik dari masa lalu untuk menjawab kebutuhan masa kini dan masa depan.”
Semangat menjaga budaya tersebut juga dinilai sejalan dengan upaya membangun Kota Kupang yang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga bertumbuh dari sisi manusia, karakter, solidaritas dan kualitas kehidupan masyarakat.
Dalam sambutan tersebut juga ditegaskan bahwa nilai-nilai budaya seharusnya hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari menghormati orang lain, menjaga lingkungan, bergotong royong, menghargai perbedaan hingga membangun kehidupan yang harmonis.
Semangat itu disebut menjadi bagian dari konsep Kota Kasih, di mana perbedaan bukan untuk dihapuskan, melainkan dihargai sebagai bagian dari kehidupan bersama.
“Kota Kasih bukan berarti kita semua harus sama. Harmoni justru lahir karena kita berbeda, tetapi memilih untuk saling menghargai dan berjalan bersama.”
Festival Budaya Multi Etnis NTT di Manulai II juga diharapkan terus berkembang menjadi ruang kebudayaan yang mempertemukan berbagai komunitas, membuka ruang kreativitas bagi generasi muda sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM, pelaku seni dan masyarakat sekitar.
Dengan demikian, budaya tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi kekuatan untuk membangun masa depan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat posisi Kelurahan Manulai II sebagai ruang perjumpaan masyarakat dengan latar belakang yang beragam.
Tarian dan busana adat yang ditampilkan menjadi gambaran bahwa NTT memiliki kekayaan budaya yang begitu luas. Sementara kehadiran UMKM memperlihatkan bahwa kegiatan kebudayaan juga dapat berjalan beriringan dengan kreativitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Dalam sambutannya, apresiasi disampaikan kepada panitia, pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat, pelaku seni, komunitas budaya serta seluruh masyarakat Manulai II yang telah mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Masyarakat juga diajak untuk terus menjaga Kota Kupang sebagai rumah bersama, rumah yang memberikan ruang bagi setiap etnis, budaya, agama dan generasi untuk tumbuh bersama dalam suasana aman, damai dan penuh kasih.
“Dari Manulai II, mari kita rawat keberagaman. Dari budaya, mari kita kuatkan persatuan. Dan dari Kota Kupang, mari kita tunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk membangun NTT dan Indonesia.”
Festival Budaya Multi Etnis NTT Kelurahan Manulai II Tahun 2026 kemudian resmi dibuka. Masyarakat pun diajak menikmati seluruh rangkaian kegiatan dengan semangat merayakan budaya, merawat persaudaraan dan terus bergerak bersama membangun Kota Kupang sebagai Kota Kasih.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar