Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » DAERAH » Ketika Cangkul Menjadi Jalan Pulang Mbah Rudi O

Ketika Cangkul Menjadi Jalan Pulang Mbah Rudi O

  • account_circle Yuniardi Sutondo
  • calendar_month Senin, 28 Sep 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Pacitan,JarrakPos.com-Matahari mungkin belum sepenuhnya condong ke ufuk barat ketika seorang lelaki paruh baya dengan pakaian sederhana berjalan menyusuri pematang.

Di pundaknya tersampir cangkul. Sebilah sabit berada rapi di dalam eklek. Langkahnya pelan, tetapi pasti, menuju sebidang sawah yang telah lama menjadi bagian dari kesehariannya.

Tak banyak yang menyangka, lelaki itu adalah seorang wakil rakyat.

Di gedung dewan, ia dikenal sebagai Rudi Hartoyo. Di tengah masyarakat, ia lebih akrab disapa Mbah Rudi O. Tiga periode menjadi wakil rakyat tak membuatnya merasa harus menjaga jarak dari lumpur, tanah basah, atau peluh yang membasahi tubuh.

Justru di antara tanah dan tanaman itulah, ia seperti menemukan jalan pulang.

Setelah urusan sebagai wakil rakyat ditunaikan, ia kembali menjadi dirinya sendiri. Menyusuri kebun, mencangkul tanah, menanam cabai, merawat tanaman hortikultura, atau sekadar berbincang dengan warga yang ditemuinya di tengah hamparan sawah.

Tidak ada panggung.

Tidak ada mikrofon.

Tidak ada tepuk tangan.

Hanya tanah, tanaman, dan suara alam yang menemani.

“Berkebun sudah menjadi rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan,” tuturnya dengan senyum sederhana.

Bagi Mbah Rudi O, bertani bukan sekadar pekerjaan tambahan. Ia adalah kebiasaan yang tumbuh dari kecintaan. Sebuah cara untuk tetap dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus menjaga dapur keluarga tetap menyala.

Di tengah keadaan ekonomi yang belum mudah, ia percaya setiap jengkal tanah menyimpan kemungkinan rezeki.

Cabai yang ditanam hari ini, mungkin beberapa waktu kemudian bisa membantu memenuhi kebutuhan dapur. Tanaman yang dirawat dengan sabar, kelak bisa menjadi penghasilan. Sederhana memang. Tetapi dari kesederhanaan itulah ia menemukan makna.

“Dari berkebun dan turun ke sawah, insyaallah ada berkah tersendiri buat keluarga dan juga masyarakat sekitar yang mungkin membutuhkan hasil panenan,” katanya.

Ada keyakinan yang teduh dalam kalimat itu.

Bahwa rezeki tidak selalu datang melalui pintu yang besar. Kadang ia tumbuh kecil-kecil dari sebidang tanah. Dari benih yang ditanam. Dari keringat yang jatuh. Dari tangan yang tak malu menyentuh lumpur.

Tanah yang Tak Pernah Bertanya tentang Jabatan

Mungkin tanah adalah tempat paling jujur untuk belajar tentang kehidupan.

Ia tidak pernah bertanya siapa yang menginjaknya.

Tidak peduli apakah yang datang seorang pejabat, petani, buruh, atau siapa saja.

Tanah hanya akan memberikan hasil kepada mereka yang mau mengolahnya.

Begitu pula Mbah Rudi O memandang lahan.

Tak harus selalu milik sendiri.

Jika ada lahan milik warga yang belum dimanfaatkan, ia bersedia menggarapnya. Sistemnya bisa sewa, mager sari, ataupun bagi hasil, sesuai kesepakatan.

“Daripada lahan tidak dimanfaatkan, mending saya garap biar menghasilkan,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar biasa. Namun di dalamnya ada cara pandang yang sederhana sekaligus dalam: sesuatu akan menjadi bernilai ketika mau diusahakan.

Lahan yang semula diam, diberi kehidupan.

Benih yang kecil, diberi kesempatan tumbuh.

Dan manusia yang sedang menghadapi kesulitan, diberi pelajaran bahwa masih ada jalan selama kemauan untuk berusaha belum padam.

“Obah Mamah, Nandur Ngunduh dan Dapur yang Harus Tetap Menyala”

Mbah Rudi O memiliki satu prinsip yang terus ia pegang: “Obah Mamah, Nandur Ngunduh.”

Obah mamah: setiap usaha atau tindakan yang dilakukan seseorang akan menghasilkan sesuatu. Nandur ngunduh: setiap perbuatan akan ada hasil atau akibat yang diterima, baik maupun buruk. Intinya: apa yang kita lakukan, itulah yang akan kita terima.

Menurutnya, orang yang mau bekerja akan memiliki jalan untuk mendapatkan penghasilan.

Prinsip itu terdengar sederhana, tetapi terasa semakin berarti ketika kehidupan sedang tidak mudah.

“Jangan gengsi. Yang penting dapur masih tetap ngebul,” katanya.

Barangkali itulah filosofi hidup yang paling dekat dengan keseharian.

Seseorang boleh memiliki jabatan. Boleh duduk di ruang rapat. Boleh mengenakan pakaian resmi. Tetapi ketika pulang ke rumah, kebutuhan keluarga tetap sama.

Nasi tetap harus ditanak.

Anak-anak tetap membutuhkan makan.

Dan kehidupan tetap meminta untuk dijalani.

Karena itu, bagi Mbah Rudi O, bekerja bukan persoalan gengsi.

Kerja adalah ikhtiar.

Kerja adalah bentuk tanggung jawab.

Dan kerja, selama dilakukan dengan cara yang halal, adalah bagian dari jalan manusia menjemput rezeki yang telah disediakan Tuhan.

Di Antara Keringat dan Doa
Ada sesuatu yang indah dari kehidupan seorang petani.

Ia menanam tanpa pernah benar-benar tahu seperti apa hasil akhirnya.

Benih ditanam hari ini, tetapi panen masih menjadi cerita di kemudian hari.

Di situlah kesabaran menemukan tempatnya.

Petani mengajarkan bahwa tidak semua hal bisa diperoleh dengan segera. Ada waktu untuk menanam. Ada waktu untuk merawat. Ada waktu untuk menunggu. Dan ketika tiba waktunya, manusia hanya bisa bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan.

Mungkin karena itu pula Mbah Rudi O tidak pernah merasa rendah ketika harus kembali ke sawah.

Di sana, ia bukan sedang meninggalkan dunia politik.

Ia sedang menyapa kembali kehidupan yang sejak awal telah membesarkannya.

Ia sedang mengingatkan dirinya bahwa setinggi apa pun seseorang berada, tetap ada tanah yang menjadi tempat berpijak.

Dan sebanyak apa pun jabatan yang diemban, tetap ada kewajiban untuk bekerja, berikhtiar, dan memberi manfaat.

Menjelang sore, ketika matahari mulai melunak dan bayangan pepohonan memanjang di pematang, mungkin cangkul itu kembali disandarkan.

Peluh dibersihkan.

Tanaman ditengok sekali lagi.

Lalu langkah perlahan kembali menuju rumah.

Tidak ada yang istimewa dari pemandangan itu bagi sebagian orang.

Namun bagi Mbah Rudi O, setiap tetes keringat di tanah adalah bagian dari ikhtiar.

Setiap tanaman yang tumbuh adalah harapan.

Setiap panen adalah syukur.

Dan setiap langkah menuju sawah adalah pengingat bahwa rezeki tidak hanya dicari dengan kata-kata, tetapi juga dengan tangan yang mau bekerja.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang gengsi.

Bukan pula tentang seberapa tinggi seseorang duduk di sebuah jabatan.

Melainkan tentang kesediaan untuk terus bergerak, selama masih ada kesempatan untuk menanam kebaikan dan menjemput rezeki dengan cara yang diridai Tuhan.

Dari gedung dewan menuju lumpur sawah, Mbah Rudi O seperti sedang mengajarkan sebuah pesan sederhana: jangan pernah malu bekerja. Sebab bisa jadi, di tanah yang kita sentuh dengan tangan sendiri, Tuhan sedang menitipkan keberkahan yang tak pernah kita sangka.(Red/yun).

  • Penulis: Yuniardi Sutondo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Halau Banjir Di Kedawung PJ Bupati Cirebon Gandeng Berbagai Pihak

    • calendar_month Selasa, 7 Jan 2025
    • account_circle Hadi Supangat
    • visibility 645
    • 0Komentar

    Cirebon, Jarrakpos.com — Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya menggelar rapat koordinasi terkait penanggulangan banjir di Desa Kedawung, Kecamatan Kedawung, Senin (6/1/2025). Rapat koordinasi yang digelar di Pendopo Bupati Cirebon tersebut mengundang berbagai pihak terkait, seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung, Telkom, Perusahaan Listrik Negara (PLN), Perusahaan Gas Negara (PGN), Kementerian Pekerjaan Umum […]

  • Yayasan Sunan Gunung Jati dan PWC-R Perkuat Silaturrahmi Dengan Danrem 063/SGJ

    Yayasan Sunan Gunung Jati dan PWC-R Perkuat Silaturrahmi Dengan Danrem 063/SGJ

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Hadi Supangat
    • visibility 183
    • 0Komentar

    CIREBON, JARRAKPOS.COM – Dalam upaya memperkokoh stabilitas dan kerukunan di wilayah Cirebon, Yayasan Sunan Gunung Jati Kasultanan Cirebon bersama Paguyuban Wartawan Cirebon Raya (PWC-R) didampingi beberapa pengurus dari dua lembaga tersebut melakukan kunjungan silaturahmi ke Markas Korem 063/Sunan Gunung Jati pada 27 April 2026. Pertemuan strategis yang berlangsung hangat diruang loby Makorem 063/Sunan Gunung Jati […]

  • Stunting di Kabupaten Cirebon Alami Penurunan 5 Persen, DPPKBP3A Dorong Komitmen Lintas Sektor

    Stunting di Kabupaten Cirebon Alami Penurunan 5 Persen, DPPKBP3A Dorong Komitmen Lintas Sektor

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • account_circle Hadi Supangat
    • visibility 329
    • 0Komentar

    CIREBON, JARRAKPOS.COM I Stunting adalah masalah nasional karena menimpa hampir di seluruh daerah di Indonesia sebagaimana yang di alami Kabupaten Cirebon, karena sistem penanganannya sangat pelik dan harus melibatkan lintas sektoral. Dalam rangka mempercepat penurunan stunting Pemerintah Kabupaten Cirebon berkomitmen mendorong kolaborasi lintas sektor. Hal itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting Tingkat […]

  • BBM Bersubsidi Vs Pupuk Bersubsidi = Ketahanan Pangan?

    • calendar_month Senin, 13 Jan 2025
    • account_circle Wahyu Supriatna
    • visibility 619
    • 0Komentar

    INDRAMAYU JarrakPos.Com- Pemerintah dibawah President Prabowo Subianto telah menetapkan Visi misi nya antara lain tentang Ketahanan Pangan dan Swasembada beras, Namun semua perlunya perencanaan serta fasilitas yang mendukung khususnya dalam hal ketahanan pangan dan swasembada beras diantaranya : 1. Sistim Pengelolaan tanah yang baik 2. Saluran irigasi yang memadai 3. Pasokan air untuk pertanian yang […]

  • Negara Hadir Untuk Rakyat: Presiden Prabowo Subianto Resmikan 2.500 Jembatan Garuda dan 3.000 Titik Air Bersih

    Negara Hadir Untuk Rakyat: Presiden Prabowo Subianto Resmikan 2.500 Jembatan Garuda dan 3.000 Titik Air Bersih

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • account_circle Ghana
    • visibility 67
    • 0Komentar

    ​KUNINGAN, Jarrakpos.com – Pemerintah kembali menegaskan komitmennya dalam mempercepat pembangunan infrastruktur kerakyatan hingga ke pelosok desa. Pada Kamis (13/8/2026), Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meluncurkan secara virtual Launching 2.500 Titik Jembatan Garuda dan 3.000 Titik Air Bersih. ​Di Kabupaten Kuningan, kegiatan zoom meeting peresmian ini dipusatkan di Desa Cikubangsari, Kecamatan Kramatmulya, dan dihadiri oleh jajaran […]

  • Program Seribu Jalan Mulus Dirasakan Warga, Walikota Dedy – Wawali Ronny Banjir Ucapan Terima Kasih

    Program Seribu Jalan Mulus Dirasakan Warga, Walikota Dedy – Wawali Ronny Banjir Ucapan Terima Kasih

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.294
    • 0Komentar

    BENGKULU, jarrakpos.com – Warga Kota Bengkulu mengungkapkan rasa bahagia dan terima kasih yang mendalam kepada Walikota Dedy Wahyudi dan Wakil Walikota Ronny PL Tobing setelah sejumlah ruas jalan di berbagai kelurahan telah mulus diaspal. Program Seribu Jalan Mulus yang dicanangkan Pemkot dinilai telah memberikan manfaat nyata dan kemudahan akses bagi masyarakat. Faisal, warga Kelurahan Kandang […]

expand_less